Perlawanan heroik pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa membuat Belanda nyaris. Palagan berlangsung lima tahun dan menguras logistik kaum kolonial. Tapi, kebangkrutan itu akhirnya malah melahirkan sistem Tanam Paksa di Tanah Jawa.
KOSONGSATU.ID—Perpustakaan Nasional mengadakan gelaran memperingati 200 tahun Perang Jawa, mulai 20 Juli – 20 Agustus 2025. Apa yang perlu diperingati dari perang itu? Capaian apa yang diraih oleh aktor-aktornya untuk bangsa ini?
Jadi begini.
Pada tahun 1825, tanah Jawa bergolak. Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap praktik kolonialisme Belanda dalam perang berdarah yang bakal berlangsung selama lima tahun.
Dan Perang Jawa ini membuat Belanda nyaris bangkrut.
Sejarawan Peter Carey, dalam karya monumentalnya, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java (2007), menyebut Perang Jawa sebagai titik balik sejarah Indonesia modern.
Dalam tulisannya yang lebih awal berjudul The Origins of the Java War (1825–1830), Carey menyebut bahwa perang bukan sekadar konflik lokal, tapi menjadi penyebab utama defisit besar dalam kas kolonial Belanda dan mengakhiri masa ekonomi liberal yang sempat tumbuh.
Perang yang Mahal dan Mematikan
Menurut beberapa sumber sejarah, Perang Jawa menelan biaya antara 20 hingga 25 juta gulden, angka yang luar biasa besar di masa itu—setara sekitar 5–6 persen dari Produk Nasional Bruto (GNP) Belanda yang berkisar 430 juta gulden.
Tak hanya uang yang hilang, lebih dari 15 ribu tentara dan pegawai kolonial tewas. Kebanyakan akibat penyakit tropis dan kondisi medan perang yang buruk.
Sistem pertahanan dan logistik kolonial pun porak-poranda.
Sebagaimana dicatat dalam jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebelum Perang Jawa, sistem revenue farming—atau sistem monopoli dan cukai negara, termasuk opium dan pajak—menghasilkan pendapatan tetap yang menopang roda pemerintahan kolonial.
Namun, perang mengguncang seluruh tatanan ini. Carey menyebut bahwa sistem keuangan kolonial yang semula stabil runtuh akibat perang, dan memaksa pemerintah mencari sumber pemasukan baru.
Jalan Menuju Tanam Paksa
Dari reruntuhan defisit ini, lahirlah kebijakan paling eksploitatif dalam sejarah kolonial: Cultivation System atau Tanam Paksa.
Diterapkan mulai 1830, sistem ini memaksa petani Jawa menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, dan nila—bukan untuk kebutuhan lokal, tapi demi kepentingan kas negara kolonial.
Sistem ini terbukti sangat menguntungkan Belanda. Dalam 40 tahun berikutnya, lebih dari 1 miliar gulden berhasil dikirim dari Jawa ke Amsterdam—mengisi kas negara, membiayai infrastruktur, dan bahkan mendukung awal industrialisasi di Eropa.
Namun, keberhasilan ekonomi ini dibayar mahal oleh rakyat Jawa.
Seperti ditulis dalam Developing Economics, kebijakan tanam paksa menyebabkan kerusakan sosial luar biasa: kelaparan, kemiskinan struktural, dan runtuhnya ekonomi lokal desa. Belanda pulih, tetapi Jawa terluka.
Ironi Sejarah: Kemenangan yang Menjadi Kutukan
Peter Carey menulis bahwa perang ini adalah peristiwa yang memisahkan dua era: zaman tatanan lama dan zaman kolonial yang jauh lebih keras.
Dan ironinya, menurut Carey, semangat Diponegoro untuk membebaskan tanah Jawa justru membuka jalan bagi kolonialisme yang lebih brutal.
Perang ini memang tak berhasil mengusir Belanda, tapi ia sukses membuat Belanda kelabakan. Dalam jangka pendek, mereka menderita defisit dan kejatuhan sistem keuangan.
Namun, dalam jangka panjang, Belanda justru menemukan cara paling efisien untuk mengeruk kekayaan koloninya.
Perang Jawa menghancurkan kas Belanda. Namun, dari reruntuhan itulah lahir sistem tanam paksa yang memperkaya Eropa dan melumpuhkan Nusantara.***




Tinggalkan Balasan