Penemuan di situs Leang Panninge membuktikan budaya perkakas prasejarah Sulawesi Selatan tidak muncul tiba-tiba, melainkan berevolusi perlahan selama puluhan ribu tahun.
KOSONGSATU.ID – Peneliti dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Suryatman, mengungkapkan evolusi teknologi alat batu di Sulawesi Selatan. Perkembangan ini berlangsung secara bertahap selama 40.000 tahun terakhir. Riset membedah peninggalan di situs Leang Panninge, Kabupaten Maros.
”Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong. Inovasi ini berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan puluhan ribu tahun,” kata Suryatman, Kamis, 16 Juli 2026.
Penelitian kolaboratif ini juga melibatkan tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Griffith University. Temuan menunjukkan masyarakat prasejarah awalnya memproduksi serpih batu sederhana. Alat tersebut dipakai langsung tanpa banyak modifikasi.
Ihwal metode pembuatan perkakas, manusia purba terbukti telah menguasai beragam teknik pengolahan. Salah satunya adalah teknik bipolar. Teknik tersebut diduga kuat berkaitan dengan pengolahan oker sebagai bahan pewarna seni prasejarah.
Jejak Toalean dan Seni Cadas
Seiring berjalannya waktu, teknologi pengolahan batu terus berinovasi secara signifikan. Suryatman menyebut sekitar 8.000 tahun silam, muncul artefak bernama Maros Point. Ujung panah batu ini menjadi penanda utama eksistensi kebudayaan Toalean.
Pada fase berikutnya, sistem produksi artefak batu menjadi jauh lebih terorganisasi. Masyarakat prasejarah mulai menghasilkan perkakas berukuran lebih kecil dan berseragam. Mereka juga memanfaatkan teknologi pembentukan punggung alat bantu prasejarah.
Sementara itu, Guru Besar Arkeologi Unhas, Akin Duli, menilai Leang Panninge adalah situs prasejarah krusial di Indonesia. Situs ini menyimpan jejak evolusi fisik manusia beserta perkembangan budayanya.
Sebelumnya, penemuan kerangka manusia bernama Bessé’ di lokasi ini telah membuka pemahaman baru. Kajian tersebut memperkaya sejarah populasi masa lalu di Sulawesi. “Tradisi teknologi lokal memiliki sejarah perkembangan yang panjang,” kata Akin.




Tinggalkan Balasan