Sejumlah sejarawan menilai penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional mengabaikan gerakan-gerakan yang lebih awal dan lebih inklusif secara kebangsaan — mulai dari perlawanan Pangeran Diponegoro, Sarekat Islam, hingga kiprah ulama pesantren.
KOSONGSATU.ID — Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Penetapan itu dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Namun, sejumlah sejarawan mempertanyakan apakah organisasi yang didirikan para pelajar STOVIA di Batavia itu benar-benar mewakili kesadaran nasional yang utuh.
Celah dalam Narasi Boedi Oetomo
Kritik paling sistematis datang dari sejarawan Parakitri T. Simbolon. Dalam bukunya Menjadi Indonesia (Penerbit Buku Kompas, 2006), ia menilai penetapan berdirinya Boedi Oetomo sebagai titik tolak nasionalisme pribumi memiliki banyak celah. Boedi Oetomo lahir dari kalangan pelajar STOVIA dan tidak bersifat politik — ia lebih merupakan wadah sosial kalangan priyayi Jawa, dengan agenda yang terbatas pada kemajuan pendidikan dan kebudayaan, belum menyentuh cita-cita kemerdekaan Hindia-Belanda sebagai bangsa yang berdaulat.
Sejarawan Hilmar Farid merujuk tahun 1948, ketika pertama kalinya pemerintah Indonesia memperingati hari kelahiran Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan nasional. Pada 1948, Indonesia sedang menghadapi risiko disintegrasi akibat berbagai konflik di daerah dan perseteruan politik. Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat kemudian mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo untuk mengusahakan persatuan nasional melalui momentum itu. Artinya, pemilihan Boedi Oetomo sebagai simbol kebangkitan nasional didorong oleh pertimbangan politik pada masanya, bukan semata-mata penilaian historis yang objektif.
Dalam Nyanyi Seorang Bisu I (2000), Pramoedya Ananta Toer memberikan catatan tajam: “Kebangkitan nasional bukanlah satu peristiwa sebagaimana biasanya umum menganggap, dan dihubungkan dengan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Kebangkitan nasional adalah suatu proses, satu periode, dalam mana lahirnya Boedi Oetomo bukanlah satu-satunya peristiwa sejarah, tetapi satu mata rantai belaka.”
Sarekat Islam: Gerakan yang Lebih Inklusif
Sebagai alternatif, sejumlah sejarawan menunjuk Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan H. Samanhudi di Surakarta pada 1905, berkembang menjadi SDI yang lebih terorganisasi pada 1911, lalu bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI) pada 10 September 1912 di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. SDI lahir sebagai wadah pedagang Muslim untuk bersaing dengan pedagang Tionghoa yang memonopoli perdagangan batik di Solo. Namun dalam perkembangannya, gerakan ini jauh melampaui batas etnis dan kelas sosial.



Tinggalkan Balasan