Dunia yang dibangun atas janji keteraturan global kini diuji oleh ironi terbesar: lembaga yang menjaga tatanan itu sendiri kehabisan uang untuk bertahan hidup.


KOSONGSATU.ID—Selama hampir delapan dekade, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri sebagai simbol kesepakatan global—sebuah “wasit” yang lahir dari puing-puing Perang Dunia II. Namun memasuki 2026, lembaga ini menghadapi krisis yang jarang disorot publik: kas yang menipis hingga mengancam operasional dasarnya.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres secara terbuka memperingatkan bahwa organisasinya berada dalam “perlombaan menuju kebangkrutan.” Pernyataan itu bukan metafora berlebihan. Ia merujuk pada kondisi fiskal nyata yang sedang dialami PBB—angka-angka dingin yang mencerminkan merosotnya komitmen politik dunia.

Krisis Kas dalam Angka

Untuk tahun anggaran 2026, PBB hanya mengajukan anggaran operasional sebesar USD3,24 miliar, turun lebih dari 15 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pemangkasan ini bukan strategi efisiensi sukarela, melainkan langkah darurat akibat kekurangan likuiditas.

Masalah utamanya terletak pada tunggakan iuran negara anggota. Hingga awal 2026, total tunggakan tercatat mencapai sekitar USD760 juta. Dari jumlah itu, lebih dari separuh berasal dari segelintir negara kontributor terbesar—ironisnya, negara-negara yang paling vokal dalam menentukan arah politik global.

Akibat defisit kas tersebut, Sekretariat PBB terpaksa melakukan langkah-langkah yang tak lazim bagi organisasi sebesar ini:

  • Penundaan pembayaran gaji staf di beberapa badan
  • Pembatasan perekrutan dan pembekuan perjalanan dinas
  • Penundaan pendanaan untuk program kemanusiaan dan pembangunan

Bahkan pada akhir 2025, PBB sempat menggunakan cadangan darurat untuk menutup kebutuhan operasional harian—praktik yang oleh internal organisasi sendiri disebut “tidak berkelanjutan.”

Dampak Nyata di Lapangan

Krisis kas ini menjalar ke misi-misi PBB di lapangan. Anggaran peacekeeping, yang selama ini menjadi tulang punggung stabilisasi konflik di Afrika dan Timur Tengah, ikut tertekan. Beberapa misi dipangkas skalanya, sebagian lainnya menghadapi keterlambatan logistik dan pembayaran personel.