Ia dapat dibaca sebagai ajakan untuk mengamati, memahami, dan mengambil pelajaran dari proses kehidupan yang berlangsung di depan mata. Buah yang matang tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari air yang cukup, tanah yang terjaga, tanaman yang sehat, musim yang bekerja, serta ekosistem yang tidak runtuh.
Hamdar mendorong pengembangan kajian ayat-ayat Al-Qur’an bertema lingkungan agar kesadaran ekologis tidak berhenti menjadi slogan. Kolaborasi antara ilmuwan keagamaan dan saintis, menurutnya, dibutuhkan untuk menghadirkan jawaban yang lebih konkret bagi persoalan kontemporer.
Di tengah krisis iklim, pelajaran itu terasa makin dekat. Menjaga tanaman bukan sekadar menjaga persediaan makanan untuk hari ini. Ia juga tentang memastikan bahwa hujan, tanah, dan musim masih dapat bekerja bagi generasi yang belum sempat menanam apa pun.***
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan rilis BRIN tentang paparan Profesor H.M. Hamdar Arraiyyah pada 1 Juli 2026 dan laporan IPCC. Rilis yang tersedia belum memuat tanggapan terpisah dari ahli iklim, pelaku pertanian, maupun regulator lingkungan.



Tinggalkan Balasan