“Tanaman memiliki nilai material berupa manfaat dan nilai ekonomi, tetapi pada saat yang sama juga mengandung nilai spiritual yang memberikan pelajaran bagi manusia serta menunjukkan kebesaran Allah,” kata Hamdar dalam rilis BRIN.

Poin ini penting karena krisis lingkungan kerap diperlakukan sebagai perkara teknis semata. Pembahasannya berhenti pada target emisi, teknologi energi, pupuk, irigasi, atau reboisasi. Padahal, akar persoalannya juga menyangkut cara manusia memandang alam: sebagai ruang hidup bersama atau sekadar sumber daya yang dapat diambil tanpa jeda.

Surah Al-An’am ayat 99 tidak dapat diposisikan sebagai buku teks botani modern. Tetapi ayat itu memberi kerangka etis untuk memandang tumbuhan lebih dari barang konsumsi. Ada proses air, tanah, musim, pertumbuhan, pembuahan, dan kematangan yang saling bertaut—sebuah keteraturan yang mudah rusak ketika manusia memperlakukan ekosistem hanya sebagai mesin produksi.

Saat Iklim Mengusik Rantai Pangan

Keterhubungan antara air, tanaman, dan kehidupan itu bukan sekadar gambaran puitis. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC mencatat perubahan iklim telah mengubah sebaran spesies budidaya, kesesuaian wilayah tumbuh, serta waktu terjadinya peristiwa biologis seperti pembungaan dan kemunculan serangga. Di wilayah lintang rendah, suhu yang melampaui batas toleransi tanaman semakin sering memicu tekanan panas.

IPCC juga menyimpulkan bahwa kekeringan, banjir, dan gelombang panas telah mengganggu produktivitas sektor pertanian dan perikanan. Dampaknya tidak berhenti di kebun atau sawah: ketersediaan pangan menyusut, harga dapat naik, dan rumah tangga berpendapatan rendah menjadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanannya.

Di sinilah pembacaan Hamdar memperoleh relevansinya. Perhatian terhadap tanaman dalam ayat itu bukan berhenti pada kekaguman terhadap warna hijau atau beragamnya buah. Ia dapat diterjemahkan sebagai kesadaran bahwa pangan lahir dari ekosistem yang perlu dijaga, bukan diperas sampai kehilangan kemampuan untuk pulih.