Perubahan iklim telah membuat sebagian lahan produksi pangan yang sekarang digunakan berpotensi semakin tidak sesuai bagi pertanian di masa depan. IPCC memperkirakan dampak tersebut akan lebih berat dalam skenario emisi tinggi, sementara risiko kerugian panen serentak di berbagai wilayah penghasil pangan juga meningkat.

Dengan kata lain, menjaga tanaman berarti menjaga lebih banyak hal sekaligus: kesuburan tanah, ketersediaan air, penyerbuk, hutan, pendapatan petani, hingga harga pangan di meja makan.

Tafsir Bertemu Pengetahuan Ilmiah

Hamdar menyoroti cara Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama menjelaskan ayat-ayat tentang tumbuhan dengan memanfaatkan pengetahuan ilmiah. Air ditempatkan sebagai unsur utama kehidupan, sementara pertumbuhan flora dipahami melalui proses alam yang dapat diamati dan dipelajari.

Pendekatan itu membuka ruang dialog antara kajian keagamaan dan sains. Teks keagamaan tidak perlu dipaksa menjadi laboratorium, begitu pula sains tidak perlu diperlakukan sebagai ancaman bagi iman. Keduanya dapat bertemu dalam upaya memahami realitas: satu memberi horizon nilai, yang lain membantu menjelaskan proses dan risiko secara terukur.

Dalam konteks krisis iklim, pertemuan itu penting karena kerusakan alam tidak cukup dijawab dengan imbauan moral yang abstrak. Kesadaran spiritual perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang bisa diuji: mengurangi pemborosan pangan, menjaga tutupan vegetasi, melindungi sumber air, memperkuat pertanian yang tahan iklim, dan menahan laju perusakan ekosistem.

IPCC menilai pilihan adaptasi di tingkat pertanian—seperti perubahan varietas tanaman, pengaturan ulang waktu tanam, dan perbaikan pengelolaan usaha tani—sudah dilakukan di banyak tempat. Namun, langkah otomatis di tingkat petani saja belum cukup untuk menjamin ketahanan pangan, terutama ketika kapasitas adaptasi terbatas dan tekanan noniklim ikut menumpuk.

Karena itu, pesan ekologis tidak bisa dibebankan hanya kepada individu. Pemerintah, pelaku usaha, peneliti, lembaga keagamaan, dan masyarakat perlu membaca persoalan yang sama dari sudut berbeda: bagaimana produksi pangan bertahan tanpa mempercepat kerusakan tanah, air, dan hutan.

Iman yang Memerhatikan Buah

Di akhir Surah Al-An’am ayat 99, manusia diminta memperhatikan buah ketika berbuah dan ketika masak. Kata “memerhatikan” dalam konteks ini bukan ajakan untuk menjadi penonton alam.