Di tengah cuaca yang makin sulit ditebak, satu ayat tentang hujan dan tanaman mengingatkan: alam bukan gudang bahan baku tanpa batas.

KOSONGSATU.ID — Hujan turun, daun menghijau, buah muncul, lalu manusia memanennya. Rangkaian yang tampak biasa itu kini menjadi semakin rapuh ketika musim tanam bergeser, kekeringan datang lebih panjang, dan banjir merusak lahan dalam waktu singkat.

Di tengah tekanan iklim itu, Profesor H.M. Hamdar Arraiyyah mengajak pembaca kembali memperhatikan tumbuhan bukan hanya sebagai komoditas pangan atau sumber pendapatan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN itu membedah Surah Al-An’am ayat 99 sebagai pintu masuk untuk membaca hubungan manusia, air, tanaman, dan tanggung jawab ekologis.

Ayat tersebut menggambarkan air yang turun dari langit, tumbuhan yang tumbuh menghijau, lalu hadirnya biji-bijian, kurma, anggur, zaitun, dan delima. Di bagian akhirnya, manusia diminta memperhatikan buah ketika muncul dan ketika mencapai kematangan. Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama menempatkan rangkaian itu sebagai tanda kebesaran Allah bagi orang-orang beriman.

Dalam pemaparan risetnya pada Bedah Riset dan Diskusi Artikel atau BERANDA #2, Rabu, 1 Juli 2026, Hamdar menyebut kajiannya berfokus pada hubungan nilai material dan spiritual tanaman dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama atas Surah Al-An’am ayat 99.

Bukan Hanya Nilai Panen

Tanaman selama ini lazim dibaca melalui ukuran yang mudah dihitung: hasil panen, harga pasar, kandungan gizi, khasiat obat, atau luas lahan yang bisa ditanami. Semua itu penting, terutama ketika pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap gangguan cuaca ekstrem.

Namun, Hamdar menemukan lapisan lain dalam penafsiran ayat tersebut. Tanaman memang memiliki manfaat material dan nilai ekonomi, tetapi keberadaannya juga memuat nilai spiritual: manusia diajak mengenali keteraturan, keragaman, serta ketergantungan hidup pada proses alam yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

“Tanaman memiliki nilai material berupa manfaat dan nilai ekonomi, tetapi pada saat yang sama juga mengandung nilai spiritual yang memberikan pelajaran bagi manusia serta menunjukkan kebesaran Allah,” kata Hamdar dalam rilis BRIN.

Poin ini penting karena krisis lingkungan kerap diperlakukan sebagai perkara teknis semata. Pembahasannya berhenti pada target emisi, teknologi energi, pupuk, irigasi, atau reboisasi. Padahal, akar persoalannya juga menyangkut cara manusia memandang alam: sebagai ruang hidup bersama atau sekadar sumber daya yang dapat diambil tanpa jeda.

Surah Al-An’am ayat 99 tidak dapat diposisikan sebagai buku teks botani modern. Tetapi ayat itu memberi kerangka etis untuk memandang tumbuhan lebih dari barang konsumsi. Ada proses air, tanah, musim, pertumbuhan, pembuahan, dan kematangan yang saling bertaut—sebuah keteraturan yang mudah rusak ketika manusia memperlakukan ekosistem hanya sebagai mesin produksi.

Saat Iklim Mengusik Rantai Pangan

Keterhubungan antara air, tanaman, dan kehidupan itu bukan sekadar gambaran puitis. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC mencatat perubahan iklim telah mengubah sebaran spesies budidaya, kesesuaian wilayah tumbuh, serta waktu terjadinya peristiwa biologis seperti pembungaan dan kemunculan serangga. Di wilayah lintang rendah, suhu yang melampaui batas toleransi tanaman semakin sering memicu tekanan panas.

IPCC juga menyimpulkan bahwa kekeringan, banjir, dan gelombang panas telah mengganggu produktivitas sektor pertanian dan perikanan. Dampaknya tidak berhenti di kebun atau sawah: ketersediaan pangan menyusut, harga dapat naik, dan rumah tangga berpendapatan rendah menjadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanannya.

Di sinilah pembacaan Hamdar memperoleh relevansinya. Perhatian terhadap tanaman dalam ayat itu bukan berhenti pada kekaguman terhadap warna hijau atau beragamnya buah. Ia dapat diterjemahkan sebagai kesadaran bahwa pangan lahir dari ekosistem yang perlu dijaga, bukan diperas sampai kehilangan kemampuan untuk pulih.

Perubahan iklim telah membuat sebagian lahan produksi pangan yang sekarang digunakan berpotensi semakin tidak sesuai bagi pertanian di masa depan. IPCC memperkirakan dampak tersebut akan lebih berat dalam skenario emisi tinggi, sementara risiko kerugian panen serentak di berbagai wilayah penghasil pangan juga meningkat.

Dengan kata lain, menjaga tanaman berarti menjaga lebih banyak hal sekaligus: kesuburan tanah, ketersediaan air, penyerbuk, hutan, pendapatan petani, hingga harga pangan di meja makan.

Tafsir Bertemu Pengetahuan Ilmiah

Hamdar menyoroti cara Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama menjelaskan ayat-ayat tentang tumbuhan dengan memanfaatkan pengetahuan ilmiah. Air ditempatkan sebagai unsur utama kehidupan, sementara pertumbuhan flora dipahami melalui proses alam yang dapat diamati dan dipelajari.

Pendekatan itu membuka ruang dialog antara kajian keagamaan dan sains. Teks keagamaan tidak perlu dipaksa menjadi laboratorium, begitu pula sains tidak perlu diperlakukan sebagai ancaman bagi iman. Keduanya dapat bertemu dalam upaya memahami realitas: satu memberi horizon nilai, yang lain membantu menjelaskan proses dan risiko secara terukur.

Dalam konteks krisis iklim, pertemuan itu penting karena kerusakan alam tidak cukup dijawab dengan imbauan moral yang abstrak. Kesadaran spiritual perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang bisa diuji: mengurangi pemborosan pangan, menjaga tutupan vegetasi, melindungi sumber air, memperkuat pertanian yang tahan iklim, dan menahan laju perusakan ekosistem.

IPCC menilai pilihan adaptasi di tingkat pertanian—seperti perubahan varietas tanaman, pengaturan ulang waktu tanam, dan perbaikan pengelolaan usaha tani—sudah dilakukan di banyak tempat. Namun, langkah otomatis di tingkat petani saja belum cukup untuk menjamin ketahanan pangan, terutama ketika kapasitas adaptasi terbatas dan tekanan noniklim ikut menumpuk.

Karena itu, pesan ekologis tidak bisa dibebankan hanya kepada individu. Pemerintah, pelaku usaha, peneliti, lembaga keagamaan, dan masyarakat perlu membaca persoalan yang sama dari sudut berbeda: bagaimana produksi pangan bertahan tanpa mempercepat kerusakan tanah, air, dan hutan.

Iman yang Memerhatikan Buah

Di akhir Surah Al-An’am ayat 99, manusia diminta memperhatikan buah ketika berbuah dan ketika masak. Kata “memerhatikan” dalam konteks ini bukan ajakan untuk menjadi penonton alam.

Ia dapat dibaca sebagai ajakan untuk mengamati, memahami, dan mengambil pelajaran dari proses kehidupan yang berlangsung di depan mata. Buah yang matang tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari air yang cukup, tanah yang terjaga, tanaman yang sehat, musim yang bekerja, serta ekosistem yang tidak runtuh.

Hamdar mendorong pengembangan kajian ayat-ayat Al-Qur’an bertema lingkungan agar kesadaran ekologis tidak berhenti menjadi slogan. Kolaborasi antara ilmuwan keagamaan dan saintis, menurutnya, dibutuhkan untuk menghadirkan jawaban yang lebih konkret bagi persoalan kontemporer.

Di tengah krisis iklim, pelajaran itu terasa makin dekat. Menjaga tanaman bukan sekadar menjaga persediaan makanan untuk hari ini. Ia juga tentang memastikan bahwa hujan, tanah, dan musim masih dapat bekerja bagi generasi yang belum sempat menanam apa pun.***


Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan rilis BRIN tentang paparan Profesor H.M. Hamdar Arraiyyah pada 1 Juli 2026 dan laporan IPCC. Rilis yang tersedia belum memuat tanggapan terpisah dari ahli iklim, pelaku pertanian, maupun regulator lingkungan.