Tertawa bukan sekadar reaksi spontan, tetapi cara manusia menjaga kewarasan di tengah hidup yang semakin serius dan penuh tekanan.

KOSONGSATU.ID—Tertawa selalu tampak sederhana. Ia keluar begitu saja ketika kita mendengar hal lucu, melihat tingkah aneh, atau sekadar merasa hidup terlalu serius untuk ditanggung sendirian.

Namun dalam pandangan filosofis yang dibentangkan Fahruddin Faiz, sebagaimana dikutip dari bukunya, Menjadi Manusia, Menjadi Hamba (2020), tawa bukan sekadar gerak refleks. Ia adalah cara manusia menjaga kewarasan di tengah dunia yang terus saja menuntut keseriusan. Tawa, dengan segala ringannya, justru adalah salah satu pilar paling kuat yang menyanggah hidup kita.

Kita sering mengira bahwa menjadi dewasa berarti mengurangi tawa. Padahal, siapa pun yang pernah benar-benar dewasa tahu: justru setelah dewasa, kita membutuhkan tawa lebih sering daripada sebelumnya.

Saat Pikiran Perlu Diistirahatkan

Faiz mengutip satu ungkapan yang layak ditempel di pintu lemari es siapa pun:

The mind heals with laughter” (Pikiran sembuh dengan tawa).

Pikiran, seperti mesin tua yang terus dipaksa berjalan, membutuhkan suara ringan itu untuk mencegahnya macet total. Tanpa tawa, manusia mudah menjadi kaku, jenuh, dan akhirnya buta terhadap makna.

Ada saat-saat ketika hidup terasa begitu menekan, tetapi cukup dengan satu candaan kecil—yang mungkin tidak lucu bagi siapa pun selain diri kita sendiri—beban itu terasa lebih longgar.

Kadang, yang disembuhkan bukan masalahnya, melainkan cara kita memandangnya.

Anak Kecil yang Tetap Hidup di Dalam Diri

Dalam bukunya, Faiz mengingatkan: manusia bukan semata homo sapiens yang berpikir dan homo faber yang bekerja. Kita juga homo ludens—makhluk yang bermain—dan homo ridens—makhluk yang tertawa.

Filsuf Jerman, Friederich Nietzsche, pernah berkata bahwa, in every adult there is a child who wants to play” (di dalam setiap orang dewasa ada anak kecil yang ingin bermain).

Anak kecil itu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya sering diusir dari ruang rapat kehidupan. Kadang ia baru muncul saat kita mendengar lelucon receh, atau ketika hidup terasa begitu rumit sehingga satu-satunya cara bertahan adalah dengan tersenyum—meski pahit.

Tawa adalah cara anak kecil itu mengetuk dinding batin dan berkata, “Hei, jangan terlalu tegang. Kau ini manusia, bukan batu bata.”

Keseriusan yang Perlu Dijaga agar Tidak Berlebihan

Hidup memang penuh keseriusan. Ada masalah ekonomi, konflik sosial, tagihan listrik, dan notifikasi WhatsApp dari grup keluarga yang tidak pernah selesai. Namun sebagaimana Faiz sampaikan, hidup tidak selalu harus dipersungguh. Ada ruang untuk menangis, tetapi ada pula ruang yang harus dibiarkan untuk tertawa.

Kisah Hanzhalah—yang merasa munafik karena tertawa setelah menangis di masjid—menjadi pengingat lembut bahwa keseriusan pun memiliki batas. Jika hidup hanya berisi duka dan tekanan, manusia akan mudah meledak. Tawa bukan penyangkalan. Ia adalah keseimbangan.

Dan kadang, satu senyum kecil jauh lebih filosofis daripada seribu halaman buku etika.