Al-Ghazali lewat Tahafut al-Falasifah mengguncang dunia Islam. Ia menuding tiga pandangan filosof kufur, membela wahyu atas akal, dan meninggalkan gema debat iman vs filsafat hingga kini.
KOSONGSATU.ID — Di abad ke-11, dunia Islam tengah diguncang pertemuan besar antara iman dan filsafat. Dari Baghdad hingga Andalusia, para pemikir Muslim sibuk merenungkan warisan Yunani kuno: logika Aristoteles, metafisika Plato, dan kosmologi Ptolemaios.
Dua nama besar kala itu, al-Farabi dan Ibn Sina, berhasil meramu filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, menyusunnya seakan-akan cocok dengan Islam.
Namun, di tengah gegap gempita itu, muncul seorang ulama yang melawan arus. Ia adalah Abu Hamid al-Ghazali (1058–1111), seorang faqih, sufi, sekaligus intelektual besar yang kelak dijuluki Hujjatul Islam.
Lewat kitabnya yang melegenda, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof), al-Ghazali menantang klaim-klaim para filosof. Baginya, filsafat yang terlalu jauh masuk ke wilayah akidah bisa menyesatkan.
Ia menulis: “Barang siapa terlalu mengagungkan akal, maka ia akan ditenggelamkan oleh akalnya sendiri.”
20 Masalah, 3 yang Kufur
Kitab Tahafut al-Falasifah berisi 20 masalah pokok yang dikritik al-Ghazali dari pandangan para filosof Muslim, khususnya al-Farabi dan Ibn Sina. Menurutnya, ada tiga isu yang sangat fatal hingga membuat mereka terjatuh dalam kekafiran:
- Kekekalan alam semesta – Para filosof meyakini alam tidak bermula, ia qadim bersama Tuhan. Al-Ghazali menolak tegas. Alam, katanya, diciptakan dari ketiadaan oleh kehendak Allah.
- Allah tidak mengetahui hal-hal partikular – Para filosof hanya mengakui bahwa Tuhan mengetahui hal-hal universal. Detail kecil dunia dianggap di luar pengetahuan-Nya. Bagi al-Ghazali, ini pelecehan terhadap sifat Allah yang Maha Mengetahui.
- Penolakan kebangkitan jasmani – Para filosof menafsirkan kebangkitan hanya bersifat ruhani. Al-Ghazali menegaskan bahwa dalam Islam, kebangkitan jasmani adalah bagian dari iman, sebagaimana diajarkan Al-Qur’an.
Tiga poin inilah yang menurut al-Ghazali menjerumuskan para filosof ke jurang kekufuran. Adapun 17 poin lainnya, meski salah dan sesat, masih belum sampai tahap mengingkari iman.
[Untuk ringkasan 20 poin yang dikritisi al-Ghazali, klik di sini.]Perdebatan tentang Sebab dan Akibat
Salah satu kritik tajam al-Ghazali ada dalam soal kausalitas. Para filosof berpendapat bahwa hukum sebab-akibat bersifat niscaya: api membakar kapas karena itu sifatnya.
Al-Ghazali balik menyerang. Menurutnya, api tidak membakar kapas dengan sendirinya. Api hanyalah perantara. Yang membakar sesungguhnya adalah Allah, setiap saat, setiap detik. Tanpa izin-Nya, api tidak akan pernah mampu membakar.
Inilah yang kemudian melahirkan doktrin okasionalisme: bahwa sebab-akibat hanyalah kebiasaan yang kita saksikan, tapi sesungguhnya semua terjadi karena intervensi langsung Allah.
Kritik terhadap Mukjizat
Dalam dunia filosof, hukum alam dianggap mutlak. Mukjizat—seperti tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular atau api menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim—mereka anggap mustahil.
Al-Ghazali menolak keras. Mukjizat adalah bukti kekuasaan Allah menangguhkan hukum alam. Justru, katanya, bila mukjizat ditolak, berarti sama saja menolak risalah para nabi.
Jiwa, Surga, dan Neraka
Para filosof juga berpendapat bahwa jiwa manusia bersifat qadim dan kekal, bahkan setelah kematian ia tetap abadi. Al-Ghazali menegaskan: jiwa itu ciptaan Allah, ia bisa dimusnahkan bila Allah berkehendak.
Mereka pun menafsirkan surga dan neraka sebagai alegori—kesenangan intelektual dan penderitaan ruhani. Bagi al-Ghazali, itu pelecehan. Surga dan neraka adalah nyata, bersifat jasmani sekaligus ruhani. “Mengabstrakkan keduanya hanya jadi permainan kata,” tulisnya.
Antara Wahyu dan Filsafat
Melalui Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali tidak menolak akal. Ia bahkan menguasai logika Aristoteles dan metode rasional dengan sangat mendalam. Tapi baginya, akal harus tahu batas. Begitu akal menabrak wahyu, maka ia harus berhenti.
Dalam banyak kasus, al-Ghazali menyoroti bagaimana para filosof sering terjebak pada kontradiksi logis. Misalnya, mereka berkata Tuhan adalah sebab pertama yang sederhana, tapi di sisi lain menggambarkan emanasi (pelimpahan) berlapis-lapis hingga muncul dunia. “Itu bukan kesatuan, melainkan kerancuan,” kritiknya.
Resonansi Panjang: Ibn Rushd Melawan
Tak berhenti di situ. Serangan al-Ghazali mengguncang dunia filsafat Islam. Puluhan tahun kemudian, Ibn Rushd (Averroes) di Andalusia menulis Tahafut al-Tahafut (Kerancuan atas Kerancuan) untuk membela filsafat dari tuduhan al-Ghazali.
Perdebatan keduanya menjadi salah satu titik paling panas dalam sejarah intelektual Islam. Eropa Latin kemudian lebih banyak mewarisi Ibn Rushd, sementara dunia Islam cenderung mengikuti al-Ghazali.
Relevansi di Zaman Modern
Mengapa Tahafut al-Falasifah penting hari ini? Karena ia mengajarkan batas antara akal dan iman, antara filsafat dan agama. Di era modern, ketika sains dan teknologi sering dipuja seakan mampu menjawab semua persoalan, pesan al-Ghazali tetap lantang: akal adalah anugerah, tapi jangan sampai menenggelamkan kita dalam kesombongan.
Sebagaimana ia tulis, “Akal adalah lentera. Tapi bila dipaksa menembus gelapnya rahasia Tuhan, ia akan padam.”
Kitab Tahafut al-Falasifah adalah kritik tajam sekaligus peringatan keras: jangan biarkan filsafat menggantikan wahyu. Dari 20 masalah yang ia kupas, tiga dianggap kufur, tujuh belas lainnya sesat. Tapi lebih dari sekadar daftar kesalahan, karya ini adalah monumen perlawanan seorang ulama terhadap gelombang intelektual yang nyaris menenggelamkan iman.
Dan dari abad ke abad, gema Tahafut al-Falasifah tetap terdengar. Di ruang-ruang kuliah filsafat Islam, di forum akademik, hingga di perdebatan publik tentang akal dan iman—nama al-Ghazali selalu hadir, menggugat dan mengingatkan.***






Tinggalkan Balasan