Teka-teki akhir hayat Nabi Isa terus bergulir. Benarkah Allah mengangkatnya ke langit secara fisik atau wafat biasa?
KOSONGSATU. ID – Kisah akhir perjalanan dakwah Nabi Isa di dunia menyisakan ruang diskusi yang luas. Allah mengabadikan momen krusial ini dalam Surat Ali Imran ayat 55, melalui firman-Nya, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku.”
Baik umat Islam maupun Kristen sepakat bahwa Tuhan mengangkat Isa. Kristen menyebut peristiwa ini sebagai kenaikan ke surga, sementara Islam memahaminya sebagai momen Allah mengangkat sang nabi ke sisi-Nya.
Kendati demikian, penggunaan ragam bahasa Arab dalam ayat tersebut melahirkan berbagai penafsiran teologis yang mendalam mengenai nasib raga sang Rasul.
Misteri Makna “Mutawaffika”: Tidur, Wafat, atau Kembali Utuh?
Mayoritas umat Muslim Sunni meyakini Nabi Isa tidak wafat di kayu salib, melainkan Allah mengangkatnya secara langsung. Keyakinan ini berangkat dari penelusuran leksikal kata ganti yang Al-Qur’an gunakan. Jika merujuk pada kematian secara eksplisit, teks biasanya memakai kata tawaffa. Seandainya ayat tersebut murni menggunakan tawaffa, tentu tidak akan ada perdebatan bahwa Allah mewafatkan Isa.
Namun, ayat suci memilih istilah mutawaffika. Secara etimologis, kata ini berarti “mengambil secara utuh” atau “menerima pembayaran penuh”. Pakar studi Islam, Neil Robinson, dalam bukunya Christ In Islam and Christianity, menyimpulkan bahwa kata kerja ini tidak selalu bermakna kematian. Dalam konteks ayat ini, maknanya lebih merujuk pada tindakan Tuhan menarik atau mengambil Isa secara menyeluruh.
Menariknya lagi, Al-Qur’an pada Surat Al-An’am dan Az-Zumar juga menggunakan akar kata yang sama untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang tidur. Tuhan mengambil jiwa manusia saat mereka terlelap, lalu mengembalikannya ketika fajar menyingsing. Oleh karena itu, makna paling rasional dari ayat tersebut adalah Allah menidurkan Nabi Isa terlebih dahulu, sebelum mengangkatnya ke alam keberadaan yang berbeda.
Makar Penyaliban dan Tipu Daya Raja Dimasyq
Ambiguitas narasi kematian Nabi Isa bermula dari kekejaman penguasa masa itu. Orang-orang Yahudi yang menolak dakwah Nabi Isa memprovokasi Raja Dimasyq (Damaskus)—seorang musyrik penyembah bintang. Mereka menyebarkan fitnah bahwa Isa menghasut rakyat Baitul Maqdis untuk memberontak.
Murka mendengar laporan tersebut, sang Raja memerintahkan gubernurnya untuk menangkap dan menyalib Isa. Pasukan mengepung rumah tempat Nabi Isa dan belasan sahabatnya (Hawariyun) berkumpul.
Di tengah kondisi genting, Nabi Isa menawarkan kemuliaan surga bagi siapa saja yang bersedia Allah serupakan wajahnya. Seorang pemuda yang paling muda dan teguh hati maju menerima tawaran tersebut.
Saat itulah Allah membuka atap rumah, menidurkan Nabi Isa, dan mengangkatnya ke langit. Pasukan yang menyerbu masuk akhirnya menangkap pemuda yang telah berubah wujud tersebut. Mereka menyalib sang pemuda dan mengklaim kemenangan.
Namun, Al-Qur’an dalam Surat An-Nisa ayat 157 secara tegas membantah klaim historis tersebut: “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.”
Pandangan Gus Baha: Memaknai Kembali Frasa “Diangkat kepada-Nya”
Polemik kenaikan Nabi Isa tidak hanya menyangkut sejarah, tetapi juga menyentuh ranah akidah. Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan analisis tajam mengenai hal ini. Beliau mengingatkan umat agar berhati-hati dalam menafsirkan teks agar tidak terjebak pada pengkultusan ala Nasrani atau penolakan keras ala Yahudi.
Gus Baha mengutip pemikiran ulama besar Mahmud Syaltut yang memandang istilah mutawaffika dalam Surat Ali Imran 55 sebagai bentuk kematian. Syaltut menilai frasa wa rafi’uka ilayya (dan mengangkatmu kepada-Ku) berlebihan jika umat mengartikannya secara fisik.
Menyelami lebih dalam, Gus Baha menjelaskan bahwa kata ilayya tidak otomatis merujuk pada lokasi di langit. Memaknai Allah berada di langit secara fisik justru berpotensi merusak akidah.
”Ilayya itu ya kembalinya ke Allah, artinya sama seperti Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun,” terang Gus Baha.
Lebih lanjut, Gus Baha menegaskan bahwa redaksi rafa’a (mengangkat) memiliki corak makna metaforis. “Redaksi rafa’a lebih ke maknawi,” ungkapnya. Ia mencontohkan istilah rafi’u darajat yang berarti meninggikan derajat seseorang secara non-fisik, atau frasa rufi’a al-ummati al-khata yang bermakna Allah mengangkat atau mengampuni kesalahan umat.
Melalui perpaduan analisis bahasa, tinjauan sejarah, dan kebijaksanaan tafsir ulama, kita dapat melihat bahwa akhir perjalanan Nabi Isa di dunia adalah wujud perlindungan mutlak dari Tuhan. Gus Baha menganjurkan umat Islam untuk mengambil jalan tengah. Kita wajib mengimani Nabi Isa sebagai Rasul utusan Allah yang mulia. Adapun mengenai teknis akhir hayatnya—apakah wafat secara lazim, tertidur, atau berpindah dimensi—biarlah itu menjadi rahasia ilahi. Wallahu a’lam bish-shawab.***
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim. (Rujukan utama pada Surat Ali Imran: 55, Surat An-Nisa: 157-158, Surat Al-Maidah: 117, Surat Al-An’am, dan Surat Az-Zumar).
- Alkitab. (Rujukan komparatif historis pada Injil Matius dan Injil Markus mengenai penyaliban).
- Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir). (Rujukan mengenai gelar Almasih, kisah sejarah Raja Dimasyq, dan proses penyerupaan Nabi Isa).
- Al-Bukhari & Muslim. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. (Rujukan hadis mengenai turunnya kembali Nabi Isa di akhir zaman).
- Robinson, Neil. Christ In Islam and Christianity. (Rujukan analisis leksikal dan etimologis kata tawaffa dan bentuk kelimanya dalam Al-Qur’an).
- Kalam-Kajian Islam. (2020, 7 September). Kajian Gus Baha mengenai Kematian dan Kenaikan Nabi Isa ke Langit. YouTube. (Rujukan analisis linguistik kata ilayya, rafa’a, dan pandangan jalan tengah akidah Islam).
- Syaltut, Mahmud. (Pemikiran tafsir mengenai makna mutawaffika dan wa rafi’uka ilayya yang dikutip melalui kajian KH Ahmad Bahauddin Nursalim/Gus Baha).




0 Komentar
Setuju dg Gus Baha