Kritik terhadap Mukjizat

Dalam dunia filosof, hukum alam dianggap mutlak. Mukjizat—seperti tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular atau api menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim—mereka anggap mustahil.

Al-Ghazali menolak keras. Mukjizat adalah bukti kekuasaan Allah menangguhkan hukum alam. Justru, katanya, bila mukjizat ditolak, berarti sama saja menolak risalah para nabi.

Jiwa, Surga, dan Neraka

Para filosof juga berpendapat bahwa jiwa manusia bersifat qadim dan kekal, bahkan setelah kematian ia tetap abadi. Al-Ghazali menegaskan: jiwa itu ciptaan Allah, ia bisa dimusnahkan bila Allah berkehendak.

Mereka pun menafsirkan surga dan neraka sebagai alegori—kesenangan intelektual dan penderitaan ruhani. Bagi al-Ghazali, itu pelecehan. Surga dan neraka adalah nyata, bersifat jasmani sekaligus ruhani. “Mengabstrakkan keduanya hanya jadi permainan kata,” tulisnya.

Antara Wahyu dan Filsafat

Melalui Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali tidak menolak akal. Ia bahkan menguasai logika Aristoteles dan metode rasional dengan sangat mendalam. Tapi baginya, akal harus tahu batas. Begitu akal menabrak wahyu, maka ia harus berhenti.

Dalam banyak kasus, al-Ghazali menyoroti bagaimana para filosof sering terjebak pada kontradiksi logis. Misalnya, mereka berkata Tuhan adalah sebab pertama yang sederhana, tapi di sisi lain menggambarkan emanasi (pelimpahan) berlapis-lapis hingga muncul dunia. “Itu bukan kesatuan, melainkan kerancuan,” kritiknya.

Resonansi Panjang: Ibn Rushd Melawan

Tak berhenti di situ. Serangan al-Ghazali mengguncang dunia filsafat Islam. Puluhan tahun kemudian, Ibn Rushd (Averroes) di Andalusia menulis Tahafut al-Tahafut (Kerancuan atas Kerancuan) untuk membela filsafat dari tuduhan al-Ghazali.

Perdebatan keduanya menjadi salah satu titik paling panas dalam sejarah intelektual Islam. Eropa Latin kemudian lebih banyak mewarisi Ibn Rushd, sementara dunia Islam cenderung mengikuti al-Ghazali.

Relevansi di Zaman Modern

Mengapa Tahafut al-Falasifah penting hari ini? Karena ia mengajarkan batas antara akal dan iman, antara filsafat dan agama. Di era modern, ketika sains dan teknologi sering dipuja seakan mampu menjawab semua persoalan, pesan al-Ghazali tetap lantang: akal adalah anugerah, tapi jangan sampai menenggelamkan kita dalam kesombongan.

Sebagaimana ia tulis, “Akal adalah lentera. Tapi bila dipaksa menembus gelapnya rahasia Tuhan, ia akan padam.”

Kitab Tahafut al-Falasifah adalah kritik tajam sekaligus peringatan keras: jangan biarkan filsafat menggantikan wahyu. Dari 20 masalah yang ia kupas, tiga dianggap kufur, tujuh belas lainnya sesat. Tapi lebih dari sekadar daftar kesalahan, karya ini adalah monumen perlawanan seorang ulama terhadap gelombang intelektual yang nyaris menenggelamkan iman.

Dan dari abad ke abad, gema Tahafut al-Falasifah tetap terdengar. Di ruang-ruang kuliah filsafat Islam, di forum akademik, hingga di perdebatan publik tentang akal dan iman—nama al-Ghazali selalu hadir, menggugat dan mengingatkan.***