Warga Adat Cireundeu di Cimahi sukses wujudkan kedaulatan pangan dengan konsumsi singkong pengganti nasi sejak tahun 1918.
KOSONGSATU. ID – Bagi masyarakat adat Cireundeu di Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, ungkapan “belum kenyang kalau belum makan nasi” tidak berlaku.
Sejak tahun 1918, komunitas ini menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Pilihan ini bukan sekadar urusan selera, melainkan simbol kemerdekaan lahir dan batin yang mereka pertahankan hingga kini.

Kisah ini bermula dari krisis pangan pada masa penjajahan Belanda. Kala itu, penjajah merampas beras yang menjadi komoditas utama masyarakat. Para leluhur Cireundeu kemudian mengambil keputusan berani untuk memutus ketergantungan pada nasi dan beralih ke singkong.
Bagi warga Cireundeu, kembali makan nasi di masa kini sama halnya dengan mengkhianati prinsip leluhur. Langkah tersebut seolah membangkitkan kembali memori “terjajah” dan meruntuhkan kedaulatan pangan yang telah mereka bangun secara mandiri.
Tantangan Modernisasi dan Stigma
Kang Yana, juru bicara Kampung Adat Cireundeu, menyebut tradisi ini berpegang teguh pada pepatah: “Lamun dilakukeun bakal ngaraksuk, lamun dilanggar bakal ngaruksak.”
Artinya, tradisi ini akan menjadi pedoman hidup yang membawa kebaikan jika warga melaksanakannya, dan mendatangkan kerusakan jika mereka melanggarnya.
Namun, upaya mempertahankan kedaulatan pangan tidaklah mudah. Kang Yana menyoroti munculnya kekhawatiran saat anak-anak Cireundeu memasuki sekolah formal.
Pihak luar kerap memberikan stigma negatif dan menganggap tradisi mereka primitif akibat minimnya literasi umum tentang Cireundeu.
Merespons tekanan arus modernisasi ini, generasi muda Cireundeu tidak tinggal diam. Mereka kini aktif memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi positif dan mengedukasi masyarakat luas tentang kebenaran adat istiadat mereka.
Strategi Pertanian dan Konservasi Alam
Selain tantangan eksternal, lonjakan penduduk yang memicu pembangunan perumahan masif turut menyusutkan lahan singkong warga. Menyikapi hal ini, warga Cireundeu menyiasatinya dengan menerapkan pola tanam bergilir.




Tinggalkan Balasan