Malam Indonesia Spesial 2025: 3 Dekade PPI Kyoto Gaungkan Diplomasi Budaya lewat Seni, Batik, dan Kuliner. – GNFI

Digitalisasi juga mulai dipandang sebagai strategi pelestarian. Artikel Teltics yang meninjau dampak sistem digital terhadap peninggalan sejarah menyebut bahwa dokumentasi digital membantu memperluas akses publik serta memperkuat identitas budaya daerah.

Pemerintah Daerah Mendorong Digitalisasi Arsip

Di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program digitalisasi arsip budaya. Program ini mencakup naskah kuno, foto-foto kesenian, dan dokumentasi adat yang selama ini tersebar di berbagai kampung.

“Kalau dibiarkan dalam bentuk fisik, banyak yang akan rusak,” kata Puji Utomo, Kabid Kebudayaan, dalam sebuah wawancara dengan media pada 13 Oktober 2025.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama bukan sekadar menyimpan, tetapi memastikan generasi mendatang dapat belajar langsung dari arsip digital.

Upaya lain datang dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kalimantan Timur, yang bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Kepala DPK, Muhammad Syafranuddin, menegaskan bahwa arsip merupakan “jejak intelektual dan administratif” yang perlu dibuka ke publik secara terukur. Program ini bertujuan membuat akses arsip lebih inklusif dan memudahkan peneliti maupun pelajar mempelajari sejarah daerah.

Rekomendasi ANRI terkait penguatan pengelolaan arsip budaya dan kebangsaan menekankan digitalisasi, sosialisasi publik, kolaborasi lintas lembaga, serta peningkatan kapasitas SDM—sebuah arah baru yang mulai diikuti banyak pemerintah daerah.

Dampak terhadap Generasi Muda

Gerakan akar rumput ini menghasilkan sejumlah perubahan nyata.

Di Ciledug, acara kecil komunitas arsip membuat warga kembali mempelajari sejarah kampung mereka—mulai dari catatan kolonial hingga perkembangan modern.

Di Kaltim dan Kukar, program digitalisasi memperluas akses pelajar terhadap arsip lokal yang sebelumnya hanya bisa diakses peneliti. Syafranuddin mengatakan bahwa membuka arsip berarti memberikan masyarakat “jalan untuk memahami identitasnya secara lebih utuh.”

Penelitian Ni Luh Gede menunjukkan bahwa keterlibatan ini berpengaruh langsung terhadap nasionalisme generasi muda: semakin sering mereka terlibat dalam proyek budaya, semakin kuat rasa kepemilikannya terhadap tradisi lokal.