Padahal ongkosnya tidak sederhana. Perkawinan anak dapat memperbesar risiko putus sekolah, menutup peluang kerja yang lebih layak, serta memperpanjang ketergantungan ekonomi perempuan pada pasangan atau keluarga.

Merawat Tradisi Tanpa Mengorbankan Anak

Merariq memiliki tempat dalam sejarah sosial masyarakat Sasak. Ia memuat gagasan tentang keberanian, tanggung jawab, penghormatan antarkeluarga, dan ikatan komunal.

Tetapi semua nilai itu kehilangan makna ketika seorang anak tidak diberi kesempatan menyatakan setuju atau menolak, ketika pendidikan dihentikan, atau ketika perkawinan dipakai sebagai jalan keluar dari tekanan sosial.

Merawat Merariq pada masa kini berarti membedakan secara tegas antara prosesi adat yang dijalankan oleh dua orang dewasa dengan kesadaran penuh, dan praktik yang memakai nama adat untuk menutup perkawinan anak.

Bagi perempuan muda di Sade, tenun tidak semestinya menjadi tanda bahwa hidupnya siap diputuskan orang lain. Tenun dapat tetap menjadi warisan, keterampilan, dan kebanggaan. Sementara sekolah, pilihan, dan masa depan tetap harus menjadi milik mereka sendiri.***