Setiap wilayah dapat memiliki istilah, urutan, dan penekanan berbeda. Karena itu, Merariq tidak tepat diperlakukan sebagai satu ritual yang seragam untuk seluruh masyarakat Sasak.
Namun satu unsur menjadi pembeda paling penting: persetujuan calon pengantin perempuan. Dalam praktik adat yang dipahami sebagai proses perkawinan, perempuan bukan objek yang “diambil”, melainkan pihak yang harus mengetahui, menyetujui, dan terlibat dalam keputusan menikah.
Di sinilah persoalan Merariq Kodeq muncul. Istilah itu lazim dipakai untuk menyebut praktik Merariq yang melibatkan anak atau remaja di bawah usia perkawinan. Ketika anak dibawa pergi, didorong menikah, atau ditempatkan dalam tekanan sosial agar menerima perkawinan, tradisi berubah fungsi.
Ia tidak lagi menjadi tata cara menyatukan dua keluarga. Ia menjadi mekanisme yang dapat memutus ruang tawar seorang anak.

Tenun, Sekolah, dan Ukuran Dewasa yang Berubah
Dusun Sade dikenal luas melalui rumah adat, lumbung, dan kain tenun yang dikerjakan perempuan Sasak. Keterampilan menenun dalam banyak keluarga bukan sekadar sumber penghasilan atau atraksi wisata, tetapi pengetahuan antargenerasi yang menyimpan identitas komunitas.
Masalahnya, keterampilan budaya kadang ditarik menjadi ukuran tunggal kedewasaan perempuan. Seorang anak yang sudah bisa menenun, membantu rumah, atau telah mengalami menstruasi bisa dianggap siap memasuki perkawinan.
Padahal, kesiapan biologis tidak sama dengan kesiapan mental, sosial, pendidikan, maupun ekonomi.
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 menyamakan batas usia minimum perkawinan bagi laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun. Perubahan itu lahir dari kesadaran bahwa perkawinan bukan sekadar sah secara agama atau adat, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengambil keputusan besar bagi hidupnya.
Aturan itu memang masih membuka ruang dispensasi melalui pengadilan dalam keadaan mendesak. Namun dispensasi bukanlah pintu otomatis untuk membenarkan perkawinan anak, apalagi ketika keputusan menikah lahir dari tekanan keluarga, kehamilan yang tidak direncanakan, ketimpangan relasi, atau ketakutan terhadap stigma sosial.




Tinggalkan Balasan