Para pakar juga mengingatkan bahwa faktor lingkungan ikut memperkeruh situasi. Polusi udara, gelombang panas, dan perubahan iklim disebut berpotensi memperburuk kualitas tidur secara global. Tidur, yang seharusnya menjadi ruang pemulihan paling dasar, kini berubah menjadi arena risiko yang tak selalu disadari.

Mendengar Ulang Bahasa Tubuh

Di tengah budaya yang memuja produktivitas dan jam kerja panjang, tidur sering menjadi korban pertama. Ia dipangkas, ditunda, atau diganggu layar gawai. Namun fenomena “epidemi mendengkur” menyodorkan pertanyaan lain: apakah kita benar-benar kurang tidur, atau justru kurang mendengar tubuh sendiri?

Karena bisa jadi, masalahnya bukan hanya tentang waktu istirahat yang tergerus. Melainkan tentang sinyal halus di malam hari—suara yang selama ini dianggap remeh.

Mendengkur, dalam konteks ini, bukan sekadar kebisingan. Ia mungkin adalah alarm kesehatan yang terlalu lama kita tekan tombol snooze-nya.***