23 kasus positif dan 3 kematian tercatat sejak 2024 — tapi pakar BRIN sebut hantavirus bukan pendatang baru di Indonesia.


KOSONGSATU.ID — Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026, tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus terbanyak. Tiga pasien meninggal dunia, sementara 20 lainnya telah sembuh.

Namun di balik angka-angka itu, ada fakta yang luput dari perhatian publik: virus ini bukan tamu baru.

Sudah Empat Dekade Mengintai

Penelitian menunjukkan hantavirus telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak 1980-an. Studi komprehensif di berbagai kota besar menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen — artinya dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini.

Virus ini kerap lolos dari deteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit tropis lain seperti demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis. Fenomena ini dikenal sebagai iceberg phenomenon — kasus yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari yang sesungguhnya.

Seluruh 23 kasus konfirmasi di Indonesia mengarah pada sindrom demam berdarah dengan gangguan ginjal akibat varian Seoul — berbeda dari varian Andes yang kini menjadi sorotan global.

Penularan Butuh Kontak Berkualitas

Prof. Masdalina Pane, Profesor Riset BRIN Bidang Epidemiologi dan Biostatistik, menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan soal penularan antarmanusia.

“Kalau Covid kan droplet ya. Kalau hanta penularannya close contact, membutuhkan kontak yang berkualitas,” ujar Prof. Masdalina dalam wawancara, Jumat (8/5/2026).

Yang justru lebih mengancam adalah rute penularan dari hewan pengerat. Hantavirus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urine, feses, atau air liur tikus, kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, serta permukaan yang terkontaminasi.

Seseorang tidak harus digigit tikus untuk bisa tertular — cukup menghirup debu di lingkungan yang tercemar kotoran tikus.