Masker saat haji tak lagi wajib, namun lansia dan jemaah berisiko tinggi sangat dianjurkan memakainya di tempat padat.


KOSONGSATU. ID – Jutaan umat berkumpul saat haji, membuat jarak antarmanusia menyusut drastis. Jemaah berjalan berdempetan, berbagi ruang tidur, makan bersama, dan sering menempati ruangan tertutup yang minim ventilasi. Kondisi ini membuat batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan flu sangat mudah menyebar.

​Bercermin dari pengalaman pandemi COVID-19, banyak orang bertanya: apakah kita masih perlu memakai masker di tengah kerumunan haji? Jawabannya kini bergeser dari sekadar kewajiban menjadi strategi perlindungan diri dan sesama.

​Mengapa Masker Masih Relevan?

​Infeksi saluran pernapasan menduduki peringkat teratas sebagai masalah kesehatan selama haji. Beragam faktor memicunya, mulai dari paparan virus, kepadatan massa, udara berdebu, cuaca panas terik, perubahan suhu ekstrem, hingga kelelahan fisik.

​Penelitian menunjukkan lebih dari 80 persen jemaah mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau demam saat dan setelah ibadah. Sayangnya, banyak jemaah keliru mengonsumsi antibiotik secara berlebihan untuk mengatasi keluhan yang sebenarnya disebabkan oleh virus ini.

​Kapan Jemaah Harus Memakai Masker?

​Pemerintah memang tidak lagi mewajibkan pemakaian masker. Namun, para ahli kesehatan sangat menganjurkan penggunaannya pada situasi tertentu untuk menekan risiko penularan. Anda sangat disarankan memakai masker ketika:

  1. Berada di tengah kerumunan yang sangat padat.
  2. Menumpang bus, kereta, atau berada di dalam ruangan tertutup.
  3. Menjalankan tawaf, sai, atau melempar jumrah saat kondisi penuh sesak.
  4. ​Merasakan gejala batuk, pilek, atau demam.
  5. Berstatus lanjut usia (lansia) atau mengidap komorbid seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung.
  6. Melihat orang di sekitar menunjukkan gejala sakit.

​Efektivitas Masker di Lapangan

​Banyak orang meragukan efektivitas masker karena penggunaannya sering tidak konsisten. Sebuah analisis data menyimpulkan bahwa jemaah yang memakai masker hampir sepanjang waktu memiliki risiko infeksi pernapasan jauh lebih rendah. Sebaliknya, memakai masker hanya sesekali membuat manfaatnya menurun drastis. Tantangan terbesarnya justru terletak pada kemauan jemaah untuk displin memakai masker secara rutin di tengah cuaca panas dan hiruk-pikuk keramaian.

​Tantangan dan Kekurangan Memakai Masker

​Memakai masker seharian tentu terasa kurang nyaman, apalagi saat suhu udara melonjak. Banyak jemaah merasa gerah, berkeringat, dan sesak napas ketika berjalan jauh.

​Keringat yang membasahi masker juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Oleh karena itu, bawalah masker cadangan yang cukup dan segera ganti saat masker mulai lembap atau kotor. Ingat, masker bukan satu-satunya tameng kesehatan. Anda tetap harus rutin mencuci tangan, cukup istirahat, melengkapi vaksinasi, memperbanyak minum air putih, dan menjaga jarak dari orang yang sakit.

​Aturan Memakai Masker Saat Ihram

Sebagian jemaah laki-laki sering ragu mengenai kebolehan memakai masker saat dalam keadaan ihram. Praktiknya di lapangan, banyak jemaah tetap memakai masker ketika merasa sakit, terjebak di kerumunan ekstrem, atau memiliki risiko kesehatan khusus.

​Karena terdapat perbedaan pandangan fikih mengenai hal ini, Anda sebaiknya berkonsultasi langsung dengan pembimbing ibadah atau ulama kepercayaan. Kendati demikian, dari kacamata medis, masker tetap berfungsi sebagai alat pelindung diri yang krusial bagi kelompok rentan.

​Kewajiban memakai masker saat haji memang telah usai seiring berakhirnya pandemi. Namun, fungsinya sebagai pelindung kesehatan sama sekali tidak pudar. Di tengah lautan manusia dan tingginya ancaman infeksi pernapasan, masker hadir sebagai benteng pertahanan tambahan. Bagi lansia, pengidap penyakit kronis, maupun siapa pun yang sedang merasa kurang fit, menjadikan masker sebagai teman perjalanan adalah keputusan yang sangat rasional dan bijak. ***