Mendengkur yang dulu dianggap sepele kini dibaca para pakar sebagai sinyal krisis kesehatan tidur global.


KOSONGSATU.ID — Suara mendengkur selama ini sering diperlakukan sebagai gangguan kecil di kamar tidur. Ia ditertawakan, dikeluhkan pasangan, lalu dilupakan pagi hari. Namun sejumlah pakar kesehatan kini melihatnya sebagai gejala dari masalah yang jauh lebih luas—sebuah krisis sunyi yang berlangsung setiap malam.

Sebuah laporan terbaru dari The Guardian menyebut adanya growing body of evidence yang mengarah pada apa yang mereka sebut sebagai “snoring epidemic”. Fenomena ini ditautkan dengan penuaan populasi, meningkatnya obesitas, penurunan kualitas udara, serta pola hidup modern—dari konsumsi alkohol hingga kebiasaan merokok. Laporan itu terbit pada 7 Februari 2026.

Di Inggris, para ahli memperkirakan sekitar 15 juta orang mengalami mendengkur. Dari jumlah itu, sekitar 8 juta diduga mengidap obstructive sleep apnoea (OSA), gangguan tidur serius ketika saluran napas berulang kali tersumbat dan aliran udara terhenti selama tidur.

Angka-angka tersebut menggambarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketidaknyamanan malam hari. OSA berkaitan erat dengan kelelahan kronis, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penurunan fungsi kognitif hingga demensia. Risiko kecelakaan—baik di jalan raya maupun di tempat kerja—juga meningkat, terutama akibat kantuk berlebihan di siang hari.

Sunyi yang Tak Terdeteksi

Masalahnya, sebagian besar kasus berjalan tanpa diagnosis. Banyak penderita tidak pernah menyadari apa yang terjadi pada tubuh mereka saat tidur. Laporan The Guardian menyoroti bahwa banyak kasus, terutama pada perempuan, luput terdeteksi karena gejalanya lebih samar—bukan dengkuran keras, melainkan kelelahan, sakit kepala pagi hari, atau gangguan konsentrasi.

Akibatnya, seseorang kerap menyalahkan kurang tidur, stres pekerjaan, atau usia yang bertambah. Padahal, sepanjang malam, napasnya bisa terhenti puluhan hingga ratusan kali—sebuah tekanan mikro yang perlahan menggerogoti sistem kardiovaskular dan saraf.

Tidur sebagai Medan Risiko Baru

Untuk memastikan diagnosis, pasien biasanya harus menjalani sleep study atau polisomnografi—pemeriksaan yang memantau napas, denyut jantung, dan aktivitas otak selama tidur. Terapinya beragam, mulai dari mesin continuous positive airway pressure (CPAP), alat oral, hingga implan saraf pada kasus tertentu.

Para pakar juga mengingatkan bahwa faktor lingkungan ikut memperkeruh situasi. Polusi udara, gelombang panas, dan perubahan iklim disebut berpotensi memperburuk kualitas tidur secara global. Tidur, yang seharusnya menjadi ruang pemulihan paling dasar, kini berubah menjadi arena risiko yang tak selalu disadari.

Mendengar Ulang Bahasa Tubuh

Di tengah budaya yang memuja produktivitas dan jam kerja panjang, tidur sering menjadi korban pertama. Ia dipangkas, ditunda, atau diganggu layar gawai. Namun fenomena “epidemi mendengkur” menyodorkan pertanyaan lain: apakah kita benar-benar kurang tidur, atau justru kurang mendengar tubuh sendiri?

Karena bisa jadi, masalahnya bukan hanya tentang waktu istirahat yang tergerus. Melainkan tentang sinyal halus di malam hari—suara yang selama ini dianggap remeh.

Mendengkur, dalam konteks ini, bukan sekadar kebisingan. Ia mungkin adalah alarm kesehatan yang terlalu lama kita tekan tombol snooze-nya.***