Di tengah gencarnya pengembangan drone, Komando Pusat AS (CENTCOM) tetap mengandalkan kapal perusak kelas Arleigh Burke dan jet tempur berawak dalam Operasi Epic Fury di Timur Tengah, Maret 2026. Doktrin Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) menjadi solusi atas risiko gangguan komunikasi satelit.


KOSONGSATU.ID—Peralihan strategi menuju era teknologi tanpa awak tidak secara otomatis memensiunkan armada besi konvensional Amerika Serikat. Dalam operasi penanganan krisis yang disebut Operasi Epic Fury pada Maret 2026, mesin tempur berawak tradisional tetap maju di barisan terdepan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) secara intensif mengerahkan kapal perusak kelas Arleigh Burke serta skuadron jet tempur taktis. Mesin-mesin besar yang digerakkan ribuan prajurit manusia tersebut difungsikan sebagai ujung tombak serangan utama militer Amerika.

Alih-alih menurunkan pasukan robot tak kasat mata secara penuh, militer justru mengandalkan strategi gempuran klasik. Aset perang konvensional terbukti masih memegang peranan vital yang tidak bisa digantikan oleh mesin mana pun.

Faktor Keamanan Strategis dan Geografis

Kehadiran fisik kapal perusak dan jet tempur berawak di kawasan krisis didorong oleh faktor keamanan strategis dan kondisi geografis. Dalam zona konflik tinggi, jalur komunikasi satelit teramat rentan diputus oleh musuh melalui gangguan elektronik.