Sekitar 50 anggota OPSHID Jombang turut memeriahkan kirab budaya Titik Nol Ploso untuk menyuarakan kembali sejarah kelahiran Bung Karno di tanah kelahirannya, Ploso, Jombang.
KOSONGSATU.ID–Jumat pagi jelang siang, 20 Juni 2025, langit Ploso disibak iring-iringan budaya yang membawa semangat sejarah.
Sekitar 50 anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) Jombang tampil menyolok dalam barisan kirab budaya “Titik Nol Ploso”, bagian dari rangkaian Ploso Fest 2025.
Mengenakan pakaian khas dan membentangkan spanduk bertuliskan “Luruskan Sejarah Bung Karno”, mereka tak ‘sekadar’ hadir. Mereka datang membawa misi.

“OPSHID Jombang tidak ingin hanya menjadi penonton sejarah. Kami ingin terlibat aktif, menyuarakan kebenaran sejarah kelahiran Bung Karno di Ploso,” ujar Ketua DPD OPSHID Jombang, Aria Rahman, Jumat, 20 Juni 2025
Kirab ini bukan sekadar seremoni budaya. Bagi OPSHID, ini adalah bentuk partisipasi aktif dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
Sejak lama, versi sejarah resmi menyebut Surabaya sebagai tempat lahir Soekarno. Namun, berbagai catatan, termasuk tulisan tangan ayahnya, R. Soekeni, mengindikasikan Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902 di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso—saat sang ayah menjabat mantri guru di sekolah bumiputra setempat.
Kirab, Bukan Gimmick
Kirab budaya Titik Nol digelar sebagai simbol “pijakan awal sejarah” Bung Karno di Ploso—sekaligus peneguhan atas narasi alternatif yang lama terpinggirkan.
OPSHID Jombang hadir bersama perwakilan pemerintah kabupaten, ormas lokal, dan komunitas budaya. Tapi, mereka satu-satunya organisasi pemuda yang secara eksplisit membawa agenda pelurusan sejarah.
“Ini bentuk keberanian kolektif kami. Kirab ini penting agar publik tahu: ada versi sejarah yang lebih dekat dengan sumber primer, dan Ploso bukan hanya kebetulan disebut,” terang Pamong, personel OPSHIDmedia Jombang.
Bagian dari Ploso Fest 2025
Kirab ini merupakan bagian dari Ploso Fest 2025, festival rakyat bertema “Sehat Tentrem” yang digelar sejak 20 hingga 26 Juni di Lapangan SDN Losari.
Festival diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Bung Karno. Tak hanya kirab, akan ada pertunjukan musik jazz “Sehat Tentrem” dan grup gambus @lubbilachbab pada 25 Juni sebagai klimaks acara.

Reklaim Sejarah, Serius
Keterlibatan OPSHID Jombang dalam kirab ini bukan sebatas simbolik. Mereka ingin mengangkat sejarah dari bawah, dari desa, dari tempat yang disebut “titik nol” itu. Mereka ingin menunjukkan bahwa sejarah bukan milik buku teks semata, melainkan juga milik rakyat yang mengingat dan menyuarakan.
“Ploso adalah rumah sejarah. OPSHID datang bukan hanya meramaikan, tapi menuntut agar sejarah bangsa ini dibaca ulang dengan lebih jujur,” kata Aria Rahman.
Kirab ini adalah langkah kecil dalam misi besar: mengembalikan sejarah Bung Karno ke tanah kelahirannya yang terlupakan.***




Tinggalkan Balasan