Perayaan Cap Go Meh 2026 beririsan dengan Ramadan 1447 H.


KOSONGSATU.ID—Perayaan Cap Go Meh 2026 menghadirkan suasana berbeda. Puncak acara pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan Ramadan 1447 Hijriah.

Irisan dua momentum besar ini tidak memicu gesekan. Di sejumlah daerah, panitia dan pemerintah justru menjadikannya ruang praktik toleransi di ruang publik.

Singkawang Tegaskan Nilai Kebanggaan

Di Singkawang, perayaan tetap digelar dengan penyesuaian teknis. Wali Kota Tjhai Chui Mie menegaskan nilai budaya Cap Go Meh bagi warganya.

Pada 15 Februari 2026, ia menyatakan, “Festival Cap Go Meh ini bukan sekadar agenda tahunan, namun budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Singkawang,” seperti dikutip dari Media Center Singkawang.

Ia menambahkan, tradisi ini lahir dari keberagaman. Tahun ini terasa istimewa karena Imlek dan Cap Go Meh berlangsung beriringan dengan bulan suci umat Islam.

Penyesuaian Jadwal di Bogor dan Makassar

Di Bogor, panitia Bogor Street Festival menggeser jadwal pawai 3 Maret 2026 ke malam hari.

Langkah itu diambil agar acara dimulai setelah salat Tarawih. Panitia menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada warga yang menjalankan ibadah puasa.

Barongsai Cap Go Meh— freepik

Sementara di Makassar, rangkaian Jappa Jokka memadukan buka puasa bersama dalam agenda festival.

Kota ini juga menggelar Hasamitra Heritage Run pada 1 Maret 2026. Lari tengah malam itu dirancang untuk menjaga suasana tetap kondusif tanpa mengganggu waktu ibadah.

Harmoni di Ruang Publik

Berpadunya dua perayaan ini memperlihatkan adaptasi sosial di lapangan. Panitia menata arus massa dan jadwal kegiatan agar tidak berbenturan dengan waktu ibadah.

Pergerakan wisatawan ke sejumlah kota berlangsung tertib. Aktivitas budaya tetap berjalan, sementara umat Islam menjalankan puasa dan Tarawih.

Momentum Cap Go Meh 2026 menjadi potret praktik moderasi beragama. Bukan sekadar simbol, tetapi pengelolaan ruang publik yang memperhitungkan keberagaman.