Penutupan Selat Hormuz dorong RI geser pasokan minyak ke AS.


KOSONGSATU.ID — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat menyusul penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik kawasan.

Sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati jalur Selat Hormuz. Dengan akses yang terganggu, pemerintah menyiapkan diversifikasi pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional.

“Skenarionya adalah crude yang selama ini kita ambil dari Middle East sebagian akan kita alihkan ke Amerika Serikat agar ada kepastian ketersediaan pasokan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026), seperti dikutip Reuters dan sejumlah media nasional.

Ia menegaskan langkah tersebut bukan untuk menambah volume impor, melainkan menggeser sumber pasokan guna mengantisipasi ketidakpastian geopolitik. Pemerintah ingin memastikan suplai minyak mentah untuk kilang domestik tetap terjaga.

Ketergantungan Impor dan Risiko Jalur Energi

Data Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagian pasokan itu berasal dari kawasan Timur Tengah dengan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.

Dalam laporan Reuters tertanggal 3 Maret 2026, Bahlil menyebut peningkatan pembelian dari Amerika Serikat menjadi bagian strategi jangka pendek menghadapi lonjakan harga minyak global dan gangguan rantai pasok.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan global melintasi perairan tersebut, menurut data lembaga energi internasional yang dikutip Bloomberg.

Stok BBM dan Respons Pemerintah

Bahlil memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman. Ia menyebut impor BBM Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz karena sebagian berasal dari kawasan Asia Tenggara dengan kontrak jangka panjang.