Mantan Dubes RI untuk Iran meragukan laporan rencana operasi Unit 4000 di Indonesia. Kedubes Iran dan Ahlulbait Indonesia sebelumnya membantah tudingan tersebut.

KOSONGSATU.ID – Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, mempertanyakan dasar laporan yang menyebut Garda Revolusi Iran merencanakan serangan di Tanjung Priok dan Selat Malaka. Ia menilai tudingan itu tidak sesuai dengan doktrin pertahanan dan jangkauan militer Iran.

Dian menyampaikan penilaian tersebut dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, Sabtu, 3 Oktober 2026. Perbincangan dipandu jurnalis senior Darmawan Sepriyossa.

“Tidak satu butir peluru pun dilontarkan ke tetangganya,” kata Dian, yang menjabat duta besar pada 2012–2016, saat menjelaskan pandangannya mengenai doktrin pertahanan Iran.

Menurut Dian, Iran lebih berfokus mempertahankan wilayahnya di tengah tekanan sanksi Barat. Ia menyebut kekuatan laut Iran terutama menjaga perairan Teluk Persia dan Laut Kaspia.

Atas dasar itu, Dian meragukan gambaran ancaman militer Iran hingga perairan Indonesia. Ia juga mengingatkan agar informasi mengenai operasi intelijen tidak langsung diterima sebagai fakta.

Laporan Menyebut Perekrutan Warga Indonesia

Tudingan tersebut berasal dari laporan Iran International pada 31 Agustus 2026. Media berbahasa Persia yang berbasis di London itu mengutip sumber yang identitasnya tidak dipublikasikan.

Laporan tersebut menyebut Unit 4000, divisi operasi khusus di bawah Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyiapkan operasi terhadap kapal, jalur pelayaran, dan pelabuhan di Asia.

Lokasi yang disebut meliputi Selat Malaka, Selat Bangka, Tanjung Priok, serta pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di Tiongkok.

Iran International juga menuding tiga warga negara Indonesia telah direkrut dan dibawa ke Iran untuk menjalani pelatihan. Laporan itu menggambarkan operasi melalui orang-orang yang direkrut, bukan pengerahan armada perang Iran ke Indonesia.

Dian turut menyoroti posisi Iran International. Menurut dia, media tersebut merupakan media oposisi yang mendapat pembiayaan dari Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Iran International membantah menerima pendanaan dari pemerintah atau lembaga negara. Media itu menyatakan pendanaannya berasal dari investor komersial swasta.

Kedubes Iran dan ABI Membantah

Kedutaan Besar Iran di Jakarta sebelumnya menolak laporan mengenai rencana operasi maritim tersebut. Dalam pernyataan yang diberitakan pada 25 September 2026, kedubes menyebut tudingan itu tidak berdasar dan mustahil diverifikasi.

Ahlulbait Indonesia (ABI) juga membantah pengaitan Ketua Umum Zahir Yahya dan anggota Dewan Syura Abdullah Assegaff dengan Unit 4000. Organisasi itu menyampaikan penolakan melalui hak jawab.

Menurut ABI, laporan tersebut tidak menyertakan dokumen atau transaksi yang dapat diperiksa secara independen untuk membuktikan keterlibatan keduanya.

Dalam perbincangan itu, Dian mengingatkan bahwa operasi intelijen membutuhkan persiapan panjang. Ia mencontohkan agen Israel Eli Cohen yang menyusup ke lingkungan elite Suriah pada 1960-an.

Dian juga menceritakan seorang warga Iran yang ditangkap di Bali menjelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi G20. Menurut dia, orang itu merupakan turis yang menunggak biaya kos, tetapi kemudian dicurigai sebagai agen intelijen.

“Sakit jiwa ini, informasi seperti ini diterima bulat-bulat,” kata Dian.

Darmawan menutup perbincangan dengan mengingatkan bahwa tuduhan terhadap Iran maupun bantahannya tetap perlu diperiksa.

“Jangan mudah takut, jangan mudah percaya, dan jangan pernah berhenti berpikir,” kata Darmawan.***