Tasawuf dan Krisis Indonesia Hari Ini
Indonesia menghadapi berbagai persoalan yang berulang. Korupsi terus terjadi meski aturan bertambah. Pendidikan karakter kuat di slogan, lemah di praktik. Kebijakan publik rapi di dokumen, timpang di lapangan.
Kondisi ini menunjukkan krisis kejujuran yang bersifat sistemik. Banyak kebijakan lahir dari kepentingan, bukan kesadaran etis.
Dalam konteks ini, Shiddiqiyyah tidak menawarkan resep teknis. Ia menawarkan kerangka nilaimkejujuran sebelum kecerdikan; kerendahan hati sebelum kekuasaan; kesadaran batin sebelum pembangunan fisik.
Tasawuf sebagai Literasi Publik
Tasawuf sering dipersepsikan sebagai urusan ritual atau kelompok tertentu. Padahal, jika dibaca secara sederhana, tasawuf adalah pendidikan etika sehari-hari.
Ia mendidik pejabat agar jujur pada niatnya. Mendidik warga agar sadar batas konsumsi. Mendidik pemuka agama agar rendah hati. Dan mendidik bangsa agar tidak terjebak simbol.
Pesan Abu Yazid jelas: musuh terbesar manusia bukan selalu sistem di luar dirinya, melainkan ego di dalam dirinya.
Tasawuf dan Masa Depan Etika Publik
Di tengah dunia yang mencari solusi cepat, tasawuf justru mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan keputusan kita—kesadaran atau ego?
Sebagai literasi publik, pesan ini relevan bagi Indonesia hari ini.
Kemajuan tanpa kejujuran hanya mempercepat kerusakan.
Spiritualitas tanpa tanggung jawab sosial hanya menjadi pelarian.
Abu Yazid dan Shiddiqiyyah, dalam pembacaan ini, bukan romantisme masa lalu. Keduanya menjadi cermin etika untuk masyarakat yang sedang mencari kembali pusat dirinya.***





1 Komentar