Di tengah lanskap keagamaan yang kerap terjebak pada ritual dan simbol, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menempuh jalan berbeda: menjadikan pesantren sebagai pusat transformasi sosial yang nyata dan terukur.
KOSONGSATU—Di balik geliat sosial Thoriqoh Shiddiqiyyah yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia, sosok yang akrab disapa Kiai Muchtar Mu’thi itu berdiri sebagai poros spiritual sekaligus arsitek gerakan. Ia tidak memosisikan tarekat sebagai ruang eksklusif untuk menyempurnakan kesalehan personal, melainkan sebagai laboratorium kemanusiaan.
Sejak awal merintis, ia menanamkan doktrin “Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan”. Bagi sang mursyid, iman tidak berhenti pada zikir dan wirid; ia harus menjelma menjadi tindakan sosial. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa kesalehan ritual tanpa keberpihakan pada kaum duafa hanya akan melahirkan jarak antara agama dan realitas.
Visi itu perlahan membentuk watak gerakan. Ribuan murid tidak hanya berkumpul dalam majelis, tetapi juga turun menyapa masyarakat yang terpinggirkan. Dari program santunan hingga pembangunan rumah layak huni, arah kebijakan sosial selalu berakar pada satu gagasan: agama mesti terasa manfaatnya.
Organisasi sebagai Perpanjangan Visi
Transformasi gagasan menjadi aksi tidak berjalan sporadis. Di bawah bimbingannya, lahir organisasi-organisasi sayap yang menggerakkan segmen berbeda dalam jamaah. Kaum ibu dihimpun melalui DHIBRA yang dipimpin Nyai Shofwatul Ummah, sementara generasi muda bergerak melalui OPSHID. Keduanya berfungsi sebagai perpanjangan tangan visi besar sang guru.
Model ini memperlihatkan bagaimana sebuah tarekat mengelola energi sosial secara sistematis. Setiap lini memiliki peran, tetapi tetap bermuara pada satu komando spiritual. Kepemimpinan tidak bersifat administratif semata, melainkan karismatik dan ideologis—mengarahkan sekaligus memberi teladan.
Di pusatnya berdiri Pesantren Majma’al Bachroin Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang. Dari kompleks pesantren inilah instruksi program sosial disusun dan didistribusikan ke sedikitnya 19 provinsi. Jangkauannya melampaui batas geografis Jawa Timur, menjadikan Ploso sebagai simpul gerakan nasional berbasis spiritualitas.



8 Komentar