Menjelang magrib di pekan pertama Ramadan 1447 H, ruas Delta Terminal Pandaan berubah menjadi panggung perburuan takjil yang bukan hanya riuh, tetapi juga bernilai miliaran rupiah bagi ekonomi lokal.


KOSONGSATU.ID—Di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, fenomena yang populer disebut “War Takjil” tak lagi sekadar tradisi berburu kudapan berbuka. 

Pantauan pada Kamis (26/02/2026) menunjukkan antrean sudah terbentuk sejak pukul 15.30 WIB. Lapak-lapak sederhana menjelma etalase warna: kolak pisang berkuah santan, gorengan less oil yang mengilap, es teler dengan potongan alpukat tebal, hingga minuman kekinian yang akrab di lini masa Gen Z.

Ritmenya cepat. Datang, pilih, bayar, pindah. Dalam hitungan jam, ratusan transaksi terjadi di satu titik.

Perebutan di Titik Strategis

Kawasan Delta Terminal hingga jalur penyangga menuju Prigen menjadi simpul utama keramaian. Tidak hanya warga Muslim yang berpuasa, warga non-Muslim pun tampak ikut mengantre. Fenomena ini memperlihatkan pergeseran makna: takjil tak lagi eksklusif, melainkan ruang sosial yang inklusif.

Di media sosial, candaan soal “toleransi ada batasnya kalau soal takjil” berseliweran. Humor ringan itu justru menegaskan satu hal—pasar rakyat tetap menjadi titik temu lintas identitas.

Pemerintah daerah membaca momentum ini sebagai energi ekonomi musiman yang tidak boleh dibiarkan berjalan liar. Titik-titik bazar resmi ditetapkan agar pedagang kaki lima tetap tertib tanpa kehilangan ruang usaha.

Muhammad Fakih, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UMKM, menegaskan bahwa penataan dilakukan berdasarkan Peraturan Wali Kota agar UMKM mendapat panggung sekaligus menjaga ketertiban kota. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan geliat ekonomi ini berlangsung rapi, aman, dan produktif.

Target Pertumbuhan 6 Persen

Di balik riuh pembeli, ada kalkulasi makro yang bekerja. Pemerintah daerah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama sebesar 6 persen, dan pasar takjil menjadi salah satu instrumen penopangnya.

Irfan Anshori, koresponden analisis ekonomi, dalam keterangannya kepada Antara News (24/02/2026) menyebut pasar takjil sebagai bentuk nyata ketahanan ekonomi mikro. Ia melihatnya sebagai momentum bagi daerah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan nasional.

Dalam bahasa sederhana: uang berputar lebih cepat di tingkat bawah.

Pedagang kecil memperoleh likuiditas harian. Bahan baku terserap. Tenaga kerja musiman terserap. Rantai ekonomi mikro bergerak serempak—meski hanya dalam rentang waktu menjelang berbuka.

Ramadan, dalam konteks ini, bukan hanya bulan spiritual, tetapi juga musim ekonomi.

Budaya, FOMO, dan Kohesi Sosial

Fenomena War Takjil 2026 juga memuat dimensi budaya yang menarik. Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan, Desy Wulandari, menilai transformasi ini sebagai gejala sosial yang sehat. Dalam kolom opini publiknya (24/02/2026), ia menyebut ada unsur FOMOFear of Missing Out—yang mendorong partisipasi massal.

Namun alih-alih negatif, dorongan itu justru memperkuat kohesi sosial. Orang datang bukan semata untuk membeli makanan, tetapi untuk menjadi bagian dari momen kolektif.

Keramaian menjadi pengalaman bersama.

Di ruang publik seperti ini, batas identitas mencair. Yang tersisa adalah antrean, obrolan ringan, dan aroma gorengan yang menguar di udara senja.

Antara Euforia dan Ketertiban

Tantangan tetap ada. Parkir sembarangan dan potensi kemacetan menjadi risiko nyata. Plt Sekretaris Satpol PP, Iman Hidayat, mengimbau warga agar tidak memarkir kendaraan di badan jalan. Ia mengingatkan bahwa euforia tak boleh mengorbankan hak pengguna jalan lain, termasuk ambulans dan kendaraan darurat.

Pengawasan dilakukan, tetapi dengan pendekatan persuasif. Aparat menyadari, ini bukan sekadar pasar dadakan—ini adalah denyut ekonomi warga.

Di titik inilah keseimbangan diuji: antara semangat ekonomi dan tata kota.

Ramadan sebagai Mesin Lokal

War Takjil Pandaan 2026 memperlihatkan satu hal penting: tradisi keagamaan dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif ketika dikelola dengan tepat.

Di tengah ketidakpastian global dan tekanan harga pangan nasional, ruang-ruang kecil seperti pasar takjil justru menjadi bantalan stabilitas. Uang beredar, UMKM tumbuh, dan masyarakat merayakan kebersamaan.

Ramadan, akhirnya, bukan hanya soal menahan lapar hingga azan magrib. Di Pandaan, ia menjadi simbol bahwa ekonomi rakyat sering kali tumbuh dari peristiwa yang paling sederhana: antrean menjelang berbuka, senyum pedagang, dan receh yang berubah menjadi perputaran miliaran rupiah.***