Ramadan 1447 H di Bali jadi bukti nyata toleransi. Dari tradisi megibung hingga Balai Banjar yang jadi pusat takjil, kerukunan umat Hindu dan Islam makin kuat jelang Nyepi 2026. 


KOSONGSATU.ID – Pelaksanaan Ramadan 1447 Hijriah di Pulau Dewata pada tahun 2026 ini kembali menjadi potret nyata toleransi tingkat tinggi di Indonesia. 

Di tengah persiapan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada bulan Maret mendatang, umat Muslim di Bali menjalankan ibadah puasa dengan dukungan penuh dari kearifan lokal masyarakat Hindu setempat.

Akulturasi Budaya dalam Tradisi Megibung

Salah satu momen paling ikonik terekam di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, pada Minggu (22/2/2026). Ratusan jemaah berkumpul untuk melaksanakan tradisi megibung, yaitu makan bersama dalam satu nampan besar.

Tradisi yang aslinya berasal dari Karangasem ini diadopsi oleh warga Muslim Bali sebagai simbol persaudaraan tanpa sekat. “Ini adalah warisan budaya yang kami jaga. Megibung bukan sekadar makan, tapi soal rasa kebersamaan dan kesetaraan,” ujar salah satu tokoh masyarakat di lokasi.

Inklusivitas Ekonomi: Takjil di Balai Banjar

Pemandangan unik terlihat di Balai Banjar Taman Griya, Jimbaran. Lembaga adat Hindu setempat memberikan ruang bagi 43 pedagang takjil untuk berjualan di area mereka tanpa pungutan sewa yang memberatkan. 

Sudita, perwakilan dari Banjar Taman Griya, menegaskan bahwa bantuan ini murni didasari rasa kemanusiaan dan persaudaraan.

“Walaupun kita beda agama, kami ikut berpartisipasi (menyediakan tempat takjil). Kami jalani dengan ikhlas,” ungkapnya pada Sabtu (21/2/2026) seperti dikutip dari detikBali. 

Langkah ini diapresiasi luas karena menunjukkan bahwa fasilitas adat Bali dapat berfungsi secara inklusif untuk kepentingan sosial lintas iman.

Pengamanan dan Kesiagaan Jelang Nyepi

Mengingat jadwal Ramadan 2026 berdekatan dengan rangkaian Nyepi, koordinasi keamanan diperketat. Di Kabupaten Bangli, pemerintah setempat menggelar Apel Siaga Kamtibmas pada Rabu (25/2/2026) untuk memastikan kondusivitas wilayah. Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, dalam arahannya menekankan pentingnya menjaga kerukunan.

“Perbedaan bukan penghalang, melainkan keindahan. Ramadan berbarengan dengan persiapan Nyepi, maka toleransi harus diperkuat,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua PHDI Bali, Nyoman Kenak, melihat adanya kesamaan spiritual antara kedua hari besar ini. Menurutnya, Nyepi yang mengajarkan mulat sarira (refleksi diri) berjalan beriringan dengan Ramadan yang merupakan bulan pengendalian hawa nafsu.

Analisis: Model Moderasi Beragama Nasional

Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa penguatan konsep pawongan (hubungan antarmanusia) dalam kerangka Tri Hita Karana menjadi kunci utama damainya Ramadan di Bali.

Kehadiran pecalang (petugas pengamanan adat Bali) yang turut menjaga kelancaran lalu lintas di sekitar area pasar takjil dan masjid saat salat Tarawih menjadi bukti nyata kolaborasi antar-umat. Dari sisi ekonomi, aktivitas di pusat takjil seperti Kampung Jawa (Denpasar) yang melibatkan 79 UMKM telah mendapatkan pengawasan ketat dari BBPOM untuk menjamin kualitas pangan bagi warga.

Ramadan di Bali tahun 2026 bukan sekadar ritual ibadah, melainkan panggung besar di mana narasi moderasi beragama dipraktikkan secara nyata, bukan sekadar teori di atas kertas. ***