Wali Songo tidak menolak simbol Majapahit, tapi mengislamkannya. Nawa Dewata diubah jadi kosmologi Wali Songo, menggeser dewa-dewa Hindu menjadi para wali sufi penjaga alam semesta.


KOSONGSATU.ID—Wali Songo memainkan peran sentral sebagai waliyul amri, pemegang otoritas dalam urusan hukum dan keagamaan umat. Mereka menjalankan metabolisme kreatif terhadap simbol dan struktur kebudayaan Kerajaan Majapahit, termasuk transformasi konsep kosmologi Hindu-Jawa, Nawa Dewata, menjadi bagian dari ajaran Islam yang sufistik.

Sejarawan NU Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (Pustaka IIMaN, 2012) menegaskan bahwa angka sembilan dalam Wali Songo bukan sekadar jumlah, tetapi simbol magis yang kuat di masyarakat Nusantara, khususnya Jawa. “Angka sembilan merupakan simbol dalam kosmologi Hindu-Jawa, yang percaya alam dijaga oleh Sembilan Dewa penjuru mata angin,” tulisnya.

Konsep ini dikenal sebagai Nawa Dewata atau Dewata Nawa Sanga, yang terdiri atas delapan dewa penjaga arah mata angin dan satu dewa pusat. Simbol ini diabadikan dalam lambang Surya Majapahit, berupa matahari dengan sembilan lingkaran dewa di tengahnya.

Menurut Agus, Wali Songo tidak serta-merta menghapus simbol tersebut, tapi mentransformasikannya.

Mereka mengganti kosmologi Nawa Dewata yang hinduistik menjadi kosmologi sufistik yang diwakili oleh Wali Songo—sembilan manusia keramat yang menggantikan posisi para dewa.

“Transformasi ini adalah proses perubahan akidah,” tegas Agus. Kosmologi baru itu berpijak pada konsep Sembilan Tingkat Kewalian yang dijelaskan dalam Futuhat Al-Makkiyah karya sufi besar Ibnu Araby (1165–1240 M).

Agus menjelaskan, sembilan tingkatan wali itu meliputi:

  1. Wali Quthub: pemimpin seluruh wali.
  2. Wali Aimmah: pengganti Quthub.
  3. Wali Autad: penjaga empat penjuru mata angin.
  4. Wali Abdal: penjaga tujuh musim.
  5. Wali Nuqaba: penjaga hukum syariat.
  6. Wali Nujaba: selalu berjumlah delapan.
  7. Wali Hawariyyun: pembela agama secara spiritual dan fisik.
  8. Wali Rajabiyyun: muncul karomahnya di bulan Rajab.
  9. Wali Khatam: wali puncak yang menjaga umat Islam.

Transformasi ini menjadikan konsep Wali Songo sebagai representasi baru dari kosmologi lama. Gagasan abstrak seperti dewa penjaga arah, kini menjelma dalam sosok-sosok wali yang hadir nyata di tengah masyarakat.

Pendekatan Wali Songo ini terbukti efektif. Mereka tidak frontal menentang sistem kepercayaan lama, tetapi secara halus dan bertahap mengubah esensinya.

Sejarawan Aguk Irawan menambahkan makna spiritual dari angka delapan arah mata angin. Menurutnya, arah itu terkait dengan empat sifat Allah (sifat, asma, aqwal, dan dzat) serta empat sifat Nabi (shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah). Keseluruhannya terkait dengan struktur Nur Muhammad, yang mencakup arasy, lauhul mahfudz, jannah, malaikat, para nabi, rasul, dan para wali.

Transformasi yang dilakukan Wali Songo menjadi bukti bahwa dakwah mereka tidak dilakukan dengan vonis dan stigma, tetapi melalui pendekatan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Islam disampaikan bukan dengan permusuhan, tapi dengan memahami akar keyakinan masyarakat, lalu mengubahnya dari dalam.***