Terinspirasi dari pesatnya pertumbuhan ekonomi Las Vegas di Amerika Serikat, Bung Karno meminta perancang interior asal Jepang menyediakan sebuah ruangan kasino seluas 20 x 8 meter di lantai delapan yang dinamakan Domino Room. Soekarno bahkan berencana membangun pelabuhan khusus kapal pesiar mewah untuk mengangkut para penjudi kaya dari berbagai belahan dunia.
Akan tetapi, angan-angan Bung Karno memicu gelombang protes keras. Kalangan ulama setempat bersama aktivis Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (Gasbiindo) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) menentang keras legalisasi perjudian tersebut. Menanggapi gejolak sosial dan situasi politik dalam negeri yang kian memanas, Bung Karno akhirnya mengalah. Ia membatalkan izin kasino melalui Keputusan Presiden Nomor 133 Tahun 1965 yang melarang lotre buntut dan perjudian sejenisnya sebagai tindakan subversi.
Hingga hotel tersebut diresmikan pada 15 Februari 1966, Domino Room tidak pernah berfungsi sebagai kasino, melainkan hanya ruang hiburan biasa. Meski mimpi kasino kandas, SBH tetap melegenda, terutama lewat keberadaan Kamar 308 yang dikeramatkan sebagai ruang meditasi khusus bagi Nyi Roro Kidul.
Nasib Sang Cliff House dan Karang Pamulang Hari Ini
Hari ini, Pesanggrahan Tenjo Resmi masih berdiri kokoh dengan statusnya sebagai aset kepresidenan yang dirawat dengan sangat ketat. Sejumlah presiden pasca-reformasi, seperti Megawati Soekarnoputri hingga Joko Widodo, tercatat pernah singgah dan bermalam di sana untuk menikmati ketenangan yang sama seperti yang dirasakan Bung Karno dahulu.
Sebaliknya, nasib memprihatinkan justru menimpa lahan hasil tukar guling di Pantai Karang Pamulang, tempat berdirinya Hotel Bunga Ayu yang dikelola oleh Yan Bastian (Opung). Kawasan yang pada era 1990-an sempat menjadi surga bagi para peselancar internasional asal Jepang ini kini mengalami kerusakan ekologis yang parah.
Kegagalan proyek pembangunan Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) pada tahun 2015 menyisakan tumpukan beton pemecah ombak (breakwater) yang terbengkalai. Dampaknya, sedimentasi pasir masif mengubur garis pantai yang dulunya indah. Air laut terpaksa menjauh, digantikan semak belukar yang gersang dan merusak ekosistem pesisir. Tingkat kunjungan hotel menurun drastis, menyisakan pemandangan perahu nelayan yang membusuk di atas daratan baru tersebut.



Tinggalkan Balasan