Menariknya, lahan strategis seluas 1.500 meter persegi itu awalnya merupakan aset pribadi milik seorang perwira militer, Mayor Mantiri, yang berdiri sebuah vila bernama Vaya con Dios. Bung Karno jatuh hati pada pandangan pertama terhadap lokasi tersebut dan menjulukinya Cliff House (Rumah di Tebing). Karena Mayor Mantiri enggan menjualnya karena telanjur cinta, Bung Karno menawarkan kesepakatan tukar guling yang adil.
Irman Firmansyah mengonfirmasi proses diplomasi yang tulus ini. “Bung Karno tidak kehabisan akal, dia membeli lahan sebelah yang lahannya lebih luas untuk ditukar-guling dengan Mayor Mantiri. Akhirnya lahan diberikan setelah Mayor Mantiri merasa Bung Karno sungguh-sungguh tulus menginginkan tempat ini,” tutur Irman. Lahan pengganti tersebut kelak berkembang menjadi kawasan perhotelan Karang Pamulang.
Bung Karno kemudian menunjuk dua arsitek legendaris Indonesia, F.S. Silaban dan R.M. Soedarsono, untuk merancang Pesanggrahan Tenjo Resmi. Dari depan, istana ini tampak seperti bangunan satu lantai yang bersahaja. Namun jika kita melihatnya dari arah laut, bangunan ini memiliki tiga tingkatan yang megah.
Tempat favorit Bung Karno berada di lantai dua, sebuah ruangan dengan dinding kaca lebar yang menjorok langsung ke laut. Di sana, sang Proklamator kerap menghabiskan sore hari sembari memandangi matahari terbenam yang jatuh sempurna di cakrawala teluk. Keindahan ruangan ini tetap terjaga hingga generasi presiden berikutnya; bahkan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kaca ikonik tersebut diganti menggunakan material anti-peluru demi keamanan kepala negara.
Mimpi Las Vegas yang Kandas di Kamar Kasino
Langkah ambisius Bung Karno tidak berhenti pada pembangunan istana. Hanya sepelemparan batu dari Tenjo Resmi, ia membangun Samudra Beach Hotel (SBH) menggunakan dana pampasan perang Jepang sebesar Rp660 miliar pada tahun 1962. Hotel modern berlantai delapan ini menyimpan rencana rahasia yang sangat berani: Soekarno ingin menjadikannya pusat perjudian internasional legal demi mendongkrak taraf hidup masyarakat lokal.



Tinggalkan Balasan