Namun, takdir berkata lain. Kebakaran hebat melanda Gentisville pada Agustus 1902 dan menghanguskan seluruh fasilitas tersebut. Menurut Irman Firmansyah, kehancuran proyek ini memicu keputusasaan Gentis bersaudara hingga nekat merampok De Javasche Bank di Batavia demi menutupi utang. Pelarian mereka berakhir tragis di tangan kepolisian kolonial, dan impian Gentisville pun terkubur menjadi puing.

Tafsir Atlantis dan Rahasia “Kawin” dengan Laut

Kelesuan ekonomi pasca-runtuhnya Gentisville berubah total ketika Indonesia merdeka. Bung Karno, yang pernah singgah di Palabuhanratu pada tahun 1938 untuk memulihkan diri dari sakit saat menjadi tahanan politik, kembali lagi ke teluk ini dengan visi yang jauh lebih revolusioner. Bagi Soekarno, Palabuhanratu adalah simbol mistis sekaligus geopolitis yang kuat.

Bung Karno kerap mengaitkan mitos penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, dengan konsep kekuasaan maritim yang nyata. Ia bahkan menyandingkan kisah tenggelamnya kerajaan nusantara kuno matriarkal, Nusa Tembini, dengan teori barat mengenai benua Atlantis yang hilang di samudera luas. Namun, Bung Karno menolak membiarkan narasi ini berhenti sebagai takhayul belaka.

Dalam pidatonya di hadapan para panglima ALRI dan Musyawarah Nasional Maritim tahun 1963, Bung Karno menegaskan bahwa cerita Nyi Roro Kidul merupakan sebuah simbolisme politik yang sangat dalam.

“Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Loro Kidul. Jikalau negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawin juga dengan laut,” tandas Soekarno.

Melalui metafora tersebut, ia menyerukan agar bangsa Indonesia kembali menguasai samudera dan terlahir kembali sebagai bangsa maritim yang disegani dunia.

Diplomasi Tukar Guling di Atas Tebing Tenjo Resmi

Guna mewujudkan obsesi maritimnya, Bung Karno mendirikan sebuah istana pesanggrahan yang megah tepat di bibir Pantai Citepus pada awal dekade 1960-an. Bangunan eksotis di atas tebing karang ini sekarang bernama Pesanggrahan Tenjo Resmi atau Istana Presiden Palabuhanratu.