Pernyataan Rubio sejalan dengan analisis para pakar energi internasional mengenai kondisi Iran. Iran diketahui sangat mengandalkan rute perairan Selat Hormuz untuk mengekspor minyak mereka.
Secara historis, ekspor 1,7 juta barel minyak per hari dari Iran bernilai sekitar 67 miliar dolar AS. Angka fantastis ini menyumbang 18 persen dari total Produk Domestik Bruto negara tersebut.
Analis Energi Internasional Kate Dourian juga menyoroti ketergantungan ekonomi Iran pada 26 Januari 2026. Ia menyebut pemblokiran ini akan menjadi senjata makan tuan bagi pemerintah Teheran.
”Iran tidak memiliki rute ekspor alternatif. Menutup Selat Hormuz pada akhirnya akan lebih merugikan Iran daripada pihak mana pun,” papar Dourian seperti dikutip oleh Anadolu Agency.
Jika blokade terwujud secara fisik, perekonomian global akan dihadapkan pada kelangkaan energi masif. Harga minyak dapat kembali ke rekor puncaknya seperti era krisis keuangan tahun 2008 silam.
Sementara itu, negara aliansi di Teluk akan terjebak dalam krisis logistik maritim yang melumpuhkan ekspor. Biaya impor komoditas pangan di kawasan tersebut juga dipastikan akan meroket tajam.***



Tinggalkan Balasan