Tren purple food mendunia. Ubi ungu—ada juga yang menyebutnya uwi ungu—jadi primadona baru kuliner sehat. Cantik, kaya nutrisi, dan ampuh menangkal penyakit.
KOSONGSATU.ID—Di meja makan orang Jepang, di gerai bakery ibu kota, hingga pameran pangan internasional—ubi ungu kini hadir dengan cara yang jauh lebih elegan daripada yang dibayangkan orang desa puluhan tahun lalu.
Dulu, ia hanya dikukus, ditumbuk, atau digoreng dengan minyak kelapa. Kini, ia masuk ke dalam daftar superfood dunia.
Bukan tanpa alasan. Di balik warna ungunya yang memikat, tersembunyi senyawa bernama antosianin—pigmen alami yang punya kekuatan sebagai antioksidan, antimutagenik, dan antikarsinogenik.
Warna ungunya bukan sekadar cantik untuk difoto. Ia adalah bukti dari kekuatan senyap yang dikandungnya.
Tren global menyebutnya purple food. Segala yang ungu dari alam—terutama ubi ungu dan bunga telang—menjadi andalan baru dunia kuliner sehat.
Tak cuma sebagai bahan makanan, ubi ungu juga menjadi pewarna alami yang stabil dan tidak merusak cita rasa. Pewarna yang bukan hanya mempercantik, tapi juga menyehatkan.
Di Indonesia, tren ini bergema di industri roti dan kue. Para produsen bakery mulai memformulasikan ulang produk mereka, mengganti sebagian tepung terigu dengan tepung ubi ungu. Hasilnya, bukan hanya tampilan yang menarik, tapi juga produk yang lebih kaya gizi dan fungsional.
Bakery berbasis ubi ungu menawarkan cita rasa unik sekaligus nilai tambah yang terus dicari oleh konsumen modern.
Halodoc melaporkan bahwa penggantian sebagian tepung terigu dengan tepung ubi ungu meningkatkan aktivitas antioksidan dalam roti. Ini bukan sekadar roti—ini adalah inovasi pangan sehat.
Jauh di Okinawa, Jepang, para lansia berumur 100 tahun ke atas mempraktikkan rahasia yang sama. Ubi ungu adalah bagian tak terpisahkan dari pola makan mereka sejak abad ke-17.
Dan Buettner, peneliti Blue Zones, menyebut ubi ungu sebagai salah satu kunci umur panjang orang Okinawa. Ia mengandung karbohidrat kompleks yang tahan banting, serat lebih banyak dari blueberry, dan antioksidan kuat yang menjaga kesehatan jantung serta menurunkan kolesterol jahat.
Buettner menulis bahwa masyarakat Okinawa hidup sehat, aktif, dan jarang terkena penyakit kronis karena kebiasaan makan alami mereka. Pola makan lokal, bukan diet modis instan.
Semua ini memperkuat satu hal: bahwa pangan lokal seperti ubi ungu bukan sekadar warisan nenek moyang, tapi juga harapan masa depan. Ia menjembatani antara tradisi dan inovasi, antara akar dan globalisasi.
Dan di sinilah kata-kata Syekh Muchtarulloh Mujtaba Mu’ti menemukan maknanya. Dalam sebuah kesempatan, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah itu berkata, “Jadi orang tahu khasiatnya itu tertarik, jadi seperti medan magnet.”
Ya, ubi ungu memang magnet. Magnet kesehatan. Magnet inovasi. Magnet kehidupan yang lebih panjang dan penuh makna.***




Tinggalkan Balasan