Di Indonesia, konteks ini terasa nyata dan mendesak. Lebih dari 56 persen penduduk Indonesia kini tinggal di perkotaan, dan angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 72,9 persen pada 2045. Urbanisasi bukan lagi tren—ia adalah arus yang tidak terbendung. Namun apa yang mengalir bersama arus itu adalah beban kesehatan yang belum sepenuhnya diperhitungkan.

Penelitian di Jakarta dan Manila menunjukkan bahwa penduduk kota dengan kepadatan tinggi melaporkan tingkat stres 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi dibandingkan penduduk di daerah suburban. Angka yang tidak mengejutkan bagi siapa pun yang pernah menghitung berapa jam hidupnya terbuang di jalan tol dalam kota.

Apa yang Hilang dari Kita

Untuk memahami mengapa kota menyiksa biologi manusia, kita perlu mundur jauh—ratusan ribu tahun ke belakang. Selama sebagian besar sejarah manusia, kehidupan melibatkan gerak tubuh yang teratur, pemicu stres yang intens namun singkat, dan paparan kaya terhadap dunia alam. Orang berjalan jauh, berburu, meramu, dan merespons ancaman fisik yang datang lalu pergi.

Kota memutus siklus itu. Stres tidak lagi datang dan pergi—ia mengendap. Tubuh yang dirancang untuk melompat menghindari predator kini duduk delapan jam di depan layar, lalu terjebak dua jam di kemacetan, lalu tertidur bersama notifikasi yang belum dijawab.

Shaw mengusulkan agar alam diperlakukan sebagai komponen krusial kesehatan masyarakat. Ia mendukung perancangan ulang kota agar lebih selaras dengan fisiologi manusia dan mengurangi paparan berbahaya. “Kita perlu membenahi kota-kota kita—dan sekaligus meregenerasi, menghargai, dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang alami,” katanya.

Bukan Pesimisme, Tapi Desain Ulang

Longman tidak menyerukan agar manusia meninggalkan kota. “Kehidupan urban adalah masa depan kita. Tantangannya adalah merancang kota yang bekerja bersama biologi manusia, bukan melawannya,” katanya.

Ini bukan seruan untuk pulang ke desa. Ini sesuatu yang lebih mendasar: pengakuan bahwa kota-kota modern dibangun mengikuti logika ekonomi dan efisiensi—bukan logika tubuh manusia. Ruang hijau dipersempit. Kebisingan dibiarkan. Ritme alami digantikan shift kerja dan jadwal rapat.