Presiden bilang setengah bahasa kita Sanskerta. Ahli bahasa mencatat kurang dari satu persen—tapi jejaknya justru lebih tua dan lebih dalam dari sekadar hitungan kosakata.
KOSONGSATU.ID – Selasa malam, 7 Juli 2026, di Jakarta International Convention Center, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi dan melontarkan satu angka.
“Peradaban dan kebudayaan kami selama ratusan tahun sangat dipengaruhi oleh peradaban India. Saya berani mengatakan sekitar 50 persen bahasa kami berasal dari Sanskerta,” kata Prabowo, disambut riuh tepuk tangan komunitas India di Jakarta. Liputan6
Dalam hitungan jam, angka itu viral—dan bertemu dengan klaim yang jauh lebih berani yang sudah lama beredar di linimasa dan blog-blog sejarah alternatif: bahwa Sanskerta sebenarnya lahir dari Nusantara, bukan dari India.
Dua klaim ini perlu diperiksa secara terpisah. Yang pertama soal hitungan kosakata, bisa dicek lewat kamus. Yang kedua soal hipotesis asal-usul salah satu bahasa klasik dunia—dan menyentuh cara banyak orang Indonesia memahami leluhurnya sendiri.
Delapan Ratus dari Seratus Dua Puluh Ribu
Bahasa Indonesia punya lebih dari 120 ribu entri kata, menurut data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Dari jumlah itu, para peneliti kata serapan memperkirakan hanya sekitar 800 kata yang berasal langsung atau tak langsung dari Sanskerta.
Artinya, bila dihitung murni dari jumlah entri kamus, porsi Sanskerta ada di kisaran 0,6 persen—bukan 50 persen seperti yang disebut presiden dalam pidato diplomatiknya.

Tapi hitungan kata saja bisa menyesatkan ke arah lain. Kata-kata Sanskerta ini bukan kosakata pinggiran; banyak yang sudah jadi tulang punggung bahasa sehari-hari.
Bahasa, cinta, agama, bahaya, manusia, negara, bahagia—semua berasal dari Sanskerta, tapi sudah lama tak terasa “asing” lagi. Frekuensi pemakaiannya jauh melampaui jumlahnya di kamus.
Di ranah sastra klasik, pengaruhnya jauh lebih besar. Filolog P.J. Zoetmulder, mengutip penghitungan J. Gonda, mencatat sekitar 25–30 persen kosakata dalam puisi Jawa Kuno (kakawin) berasal dari Sanskerta.
Jadi klaim Prabowo, meski angkanya jauh dari data kamus modern, bukan sepenuhnya tanpa dasar—ia mungkin sedang membayangkan kepadatan Sanskerta dalam sastra dan istilah keagamaan-kenegaraan lama, bukan bahasa Indonesia sehari-hari secara keseluruhan.





Tinggalkan Balasan