Yupa, Sriwijaya, dan Jejak yang Sungguh Nyata
Kalau porsinya kecil, mengapa jejaknya terasa begitu dalam? Jawabannya ada di usia dan fungsi kata-kata itu, bukan jumlahnya.
Sejarah tertulis Nusantara dimulai lewat tujuh Prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, dari abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, prasasti itu mencatat Raja Mulawarman menyedekahkan 20 ribu ekor sapi kepada para brahmana di tanah suci Waprakeswara.
Menariknya, sejarawan Bernard H.M. Vlekke mencatat nama raja pertama, Kundungga, masih berakar bahasa lokal—baru penerusnya, Aswawarman dan Mulawarman, memakai nama Sanskerta. Ini pola akulturasi, bukan penggantian total.
Ke barat, Prasasti Ciaruteun di Bogor menampilkan cap kaki Raja Purnawarman dari Tarumanegara yang disejajarkan dengan telapak kaki Dewa Wisnu. Di Sumatra, Kerajaan Sriwijaya meninggalkan Prasasti Kedukan Bukit yang memadukan Sanskerta dengan Melayu Kuno.
Kedalaman intelektual ini juga tercatat dari luar. Biksu Tiongkok I-Ching singgah delapan bulan di Sumatra pada abad ke-7 khusus untuk mempelajari Sanskerta—bukti kawasan ini punya pusat pembelajaran yang dihormati, bukan sekadar penerima pasif.
Warisan itu bertahan sampai hari ini lewat semboyan institusi negara: Jalesveva Jayamahe (TNI AL), Swa Bhuwana Paksa (TNI AU), Kartika Eka Paksi (TNI AD), dan Rastra Sewakottama (Polri)—semua berbahasa Sanskerta.
Sumber yang “Sudah Tidak Ada Lagi” Itu Bukan Nusantara
Di sinilah kabut mulai menebal. Sejumlah tulisan populer—termasuk yang menjadi bahan dasar naskah ini—mengutip pidato filolog Inggris Sir William Jones pada 1786 sebagai isyarat bahwa “sumber asli” Sanskerta yang hilang itu adalah bahasa Nusantara kuno.
Pengecekan ke teks aslinya menunjukkan penafsiran itu tidak berdasar. Dalam pidato ketiganya di hadapan Asiatick Society di Calcutta, Jones menyebut Sanskerta punya keterkaitan begitu kuat dengan Yunani dan Latin sehingga ketiganya pasti “bersumber dari satu sumber yang sama, yang barangkali sudah tak ada lagi”—dan ia menambahkan Gotik, Keltik, serta Persia Kuno ke dalam kekerabatan itu.
Sumber yang dimaksud Jones adalah bahasa purba yang kini disebut ahli bahasa sebagai Proto-Indo-Eropa—leluhur hipotetis Sanskerta, Yunani, Latin, dan rumpun bahasa Eropa lainnya. Pidato itu justru jadi tonggak lahirnya linguistik historis modern, yang menempatkan Sanskerta dalam rumpun Indo-Arya, cabang dari keluarga besar Indo-Eropa—bukan rumpun Austronesia yang menjadi induk bahasa-bahasa Nusantara.
Konsensus linguistik global sampai hari ini sepakat pada titik itu. Nusantara menyerap Sanskerta lewat jalur niaga dan sebaran keyakinan pada awal milenium pertama Masehi, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang unik—bukan menciptakannya dari nol.




Tinggalkan Balasan