Angka yang Tak Pernah Ditemukan

Sebagian klaim lain yang beredar tak sekadar keliru tafsir, tapi tak bisa ditelusuri sumbernya sama sekali. Salah satunya sebutan “penelitian Shyama Rao (1999)” yang disebut-sebut menyimpulkan Sanskerta sebagai bahasa yang “dirakit”.

Penelusuran ke basis data akademik, katalog perpustakaan, dan mesin pencari jurnal tidak menemukan publikasi dengan judul, penulis, atau tahun tersebut. Klaim ini tampaknya bersumber dari artikel-artikel blog populer yang saling mengutip satu sama lain, bukan dari literatur ilmiah yang bisa diverifikasi.

Klaim serupa menyebut tokoh bernama Dharmapala lahir di Swarnadvipa (Sumatra) pada 670–580 SM dan mendirikan pusat pembelajaran “Dharma Phala” yang mendahului Universitas Nalanda di India (427 M). Ini pun tak beririsan dengan catatan sejarah yang mapan—Dharmapala yang dikenal dalam tradisi keilmuan Nalanda hidup pada abad ke-6 Masehi, lebih dari seribu tahun setelah tanggal yang disebutkan, dan tak ada rujukan akademik independen yang mengonfirmasi keberadaan lembaga “Dharma Phala” di Sumatra sebelum Nalanda berdiri.

Angka soal penutur Sanskerta di India pada 1951 juga beredar luas versi 555 orang dari 362 juta penduduk. Angka itu mendekati catatan sensus resmi India, namun konteksnya sering dipotong: sensus itu menghitung penutur harian, bukan jumlah orang yang menguasai Sanskerta secara liturgis atau akademis, yang jauh lebih besar.

Pola ini konsisten dengan gejala yang lebih luas: narasi “Nusantara sebagai sumber peradaban dunia” beredar di sejumlah blog dan kanal media sosial Indonesia, kadang memakai istilah dan rujukan yang terdengar ilmiah tapi tak tertelusuri ke publikasi yang bisa diperiksa.

Ini tidak meniadakan kebanggaan yang layak dimiliki. Bukti arkeologis yang sungguh nyata—Yupa, Ciaruteun, Sriwijaya, catatan I-Ching—sudah cukup untuk menunjukkan Nusantara pernah menjadi pusat keilmuan yang dihormati dunia, tanpa perlu mengklaim asal-usul yang tak bisa dibuktikan.***