Lebih dari separuh penduduk Indonesia kini tinggal di kota—namun dua ilmuwan evolusi baru saja menerbitkan argumen yang mengguncang: tubuh manusia tidak pernah dirancang untuk bertahan di sini.


KOSONGSATU.ID — Setiap pagi, jutaan orang Indonesia memasuki kemacetan, menelan polusi, dan menghadapi layar penuh notifikasi—semua itu sebelum pukul sembilan. Bagi tubuh mereka, pengalaman itu bukan sekadar tidak nyaman. Menurut dua antropolog evolusi, itu adalah bentuk penyiksaan biologis yang berlangsung senyap.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan November 2025, Colin Shaw dari Universitas Zurich dan Daniel Longman dari Universitas Loughborough berargumen bahwa kehidupan modern telah melampaui kecepatan evolusi manusia. Tubuh kita, kata mereka, masih hidup di savana Afrika—sementara kaki kita berpijak di aspal Jakarta.

Hipotesis yang Menggugat

Shaw dan Longman menamai gagasan ini Environmental Mismatch Hypothesis: tesis bahwa biologi manusia yang terbentuk di alam bebas kini berbenturan keras dengan lingkungan urban yang mengepungnya. Benturan itulah yang mereka yakini menjadi akar dari epidemi stres kronis, penurunan kesuburan, dan merebaknya penyakit radang yang melanda masyarakat industri modern.

Penelitian ini bukan sekadar spekulasi filosofis. Longman dan Shaw mensintesis bukti dari studi laboratorium, lapangan, dan populasi—menyatukan data dari antropologi, ekologi, fisiologi, dan kesehatan masyarakat untuk mengevaluasi bagaimana lingkungan modern memengaruhi biologi manusia. Hasilnya menunjukkan dampak berlapis: jangka pendek maupun jangka panjang, dari tekanan darah hingga sistem imun.

Yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana kota-kota bekerja pada sistem stres kita. “Tubuh kita bereaksi seolah semua pemicu itu adalah singa,” ujar Longman. “Entah itu perdebatan dengan atasan atau kebisingan kemacetan, sistem respons stres kita tetap sama seperti saat berhadapan dengan singa demi singa. Kita punya respons yang sangat kuat dari sistem saraf, tapi tanpa pemulihan.”

Kota sebagai Mesin Stres

Kebisingan latar belakang yang kronis, keramaian, kemacetan, overstimulasi digital, dan terbatasnya akses ke ruang alami membuat sistem respons stres terus menyala. Ini meningkatkan kecemasan, memperburuk tidur, dan merusak konsentrasi.

Di Indonesia, konteks ini terasa nyata dan mendesak. Lebih dari 56 persen penduduk Indonesia kini tinggal di perkotaan, dan angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 72,9 persen pada 2045. Urbanisasi bukan lagi tren—ia adalah arus yang tidak terbendung. Namun apa yang mengalir bersama arus itu adalah beban kesehatan yang belum sepenuhnya diperhitungkan.