Di minggu keempat perang AS-Israel melawan Iran, pernyataan Presiden Donald Trump tentang arah konflik terus berubah-ubah. Analis menilai kebijakan yang inkonsisten ini mencerminkan strategi yang tidak jelas dan perang yang mungkin lepas kendali.


KOSONGSATU.ID—Dalam waktu kurang dari 24 jam, pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang perang di Iran menunjukkan kontradiksi yang mencolok. 

Sabtu (21/3/2026), Trump menulis di Truth Social bahwa Amerika “sangat dekat dengan mencapai tujuan kami dan mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar kami di Timur Tengah terkait Rezim Teroris Iran.”

Ia mencantumkan tujuan perang: mendegradasi kemampuan rudal Iran, menghancurkan industri pertahanan, melumpuhkan angkatan laut dan udara Iran, serta melindungi sekutu di kawasan.

Namun hanya sejam kemudian, Trump kembali ke platform yang sama dengan nada berbeda. Ia memberi Iran ultimatum 48 jam untuk membuka Selat Hormuz, jika tidak, AS akan “menghantam dan meluluhlantakkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!”

Kontradiksi ini terjadi di tengah klaim berulang Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa kemampuan militer Iran telah “hancur total”, meskipun Teheran terus melancarkan serangan balasan.

Tujuan Perang yang Terus Berubah

Sejak perang diluncurkan pada 28 Februari 2026, pernyataan pejabat AS tentang durasi dan tujuan konflik terus bergeser.

  • 1 Maret: Trump kepada Daily Mail mengatakan perang akan berlangsung “sekitar empat minggu.”
  • 2 Maret: Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan serangan bertujuan mengakhiri “47 tahun panjang” perang oleh “rezim ekspansionis Islam di Teheran.”
  • 8 Maret: Hegseth kepada CBS mengatakan “Ini baru permulaan.”
  • 9 Maret: Trump dalam wawancara terpisah menyebut perang “sangat lengkap, boleh dibilang,” dan operasi militer “jauh dari jadwal.” Namun di hari yang sama ia juga mengatakan perang “lengkap sekaligus baru dimulai.”
  • 11 Maret: Trump menyatakan “Kami tidak ingin pergi lebih awal, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan.”

Analis menilai pernyataan yang berubah-ubah ini menunjukkan tidak adanya kerangka strategi yang jelas dari Gedung Putih.

Alasan Perang: Dari “Penolakan Negosiasi” hingga “Firasat”

Yang paling kontroversial adalah penjelasan resmi mengapa AS dan Israel melancarkan serangan. Pada 2 Maret, Menteri Pertahanan Hegseth mengatakan serangan diluncurkan karena Iran menolak bernegosiasi dengan AS.

Namun beberapa jam kemudian, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan versi berbeda. Ia mengaku AS mengetahui Israel akan menyerang Iran, dan pemerintahan Trump memutuskan perlu melakukan serangan pre-emptive sebelum Iran membalas yang berpotensi menyasar pasukan AS.

Trump segera membantah pernyataan Rubio, mengatakan: “Mereka (Iran) akan menyerang. Jika kami tidak melakukannya, mereka akan menyerang lebih dulu… Jadi, boleh dibilang, sayalah yang memaksa tangan Israel.”

Keesokan harinya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyimpulkan bahwa Trump hanya memiliki “firasat baik” bahwa Iran akan menyerang, sehingga Washington menyerang Teheran.

Perang ini diluncurkan saat AS dan Iran dijadwalkan mengadakan putaran negosiasi lain yang difasilitasi Oman. Seorang mediator Oman menyatakan kesepakatan “hampir tercapai” sebelum perang pecah.

Klaim Nuklir Iran Tak Didukung Bukti

AS dan Israel menyatakan perang diperlukan karena Iran berada di ambang pembuatan bom nuklir. Namun klaim ini tidak didukung oleh badan pengawas nuklir PBB.

Pekan lalu, Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard juga menyatakan kepada Kongres bahwa Iran tidak dalam posisi untuk membuat bom atom.

Analis menilai pemerintahan Trump terbuai oleh keberhasilan operasi militer cepat di Venezuela pada Januari 2026. Operasi yang hanya berlangsung dua setengah jam itu berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro.

Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton, dalam wawancara dengan *The Atlantic*, menyebut Netanyahu telah mendorong intervensi militer AS di Iran selama dua dekade.

Eskalasi: Perang Telah Meluas ke Seluruh Kawasan

Terlepas dari klaim bahwa perang “hampir berakhir”, faktanya konflik telah meluas ke seluruh Timur Tengah. Iran telah meluncurkan ratusan rudal dan drone ke negara-negara Teluk, menargetkan aset AS dan fasilitas energi.

Pekan lalu, Iran menyerang fasilitas energi di Qatar dan menyebabkan “kerusakan signifikan”, melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar. Negeri itu memproduksi 20 persen pasokan LNG global.

Di tengah pernyataan yang kontradiktif, pemerintahan Trump mengumumkan pengiriman tiga kapal perang tambahan ke Timur Tengah dengan sekitar 2.500 marinir. Sekitar 50.000 personel militer AS saat ini dikerahkan untuk perang melawan Iran.

Dampak Global: Krisis Minyak dan Ancaman Resesi

Iran secara efektif memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair. Harga minyak melonjak, dan analis memperingatkan konflik ini berisiko memicu resesi global.

Tekanan ekonomi mendorong pemerintahan Trump mengizinkan penjualan minyak Rusia yang terkena sanksi untuk meredakan krisis energi. Upaya untuk mendorong sekutu menjaga Selat Hormuz sejauh ini belum berhasil.

Paolo von Schirach, presiden Global Policy Institute, mengatakan sulit memprediksi langkah Trump selanjutnya. 

“Kami melihat pesannya bahwa perang akan berakhir. OK, bagus. Mungkin ada jalan keluar. Tapi sekarang dia mengatakan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz, kami akan melepaskan neraka. Tidak jelas bagi saya apa yang dia inginkan dan alat apa yang dimilikinya untuk mencapai itu.”***