Bibit Siklon 95S di Selatan Papua

Sistem ketiga, bibit siklon 95S, terdeteksi di selatan Papua. Meski masih dalam tahap awal perkembangan, keberadaannya ikut memperkuat suplai uap air dan meningkatkan intensitas hujan serta tinggi gelombang di kawasan timur Indonesia.

“Keberadaan siklon dan bibit siklon ini meningkatkan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi,” kata Faisal.

Kondisi ini menambah tekanan bagi wilayah Papua dan sekitarnya yang secara geografis memiliki banyak daerah rawan banjir bandang dan longsor.

Kesiapsiagaan Nasional

BMKG memastikan koordinasi telah dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD di daerah, serta Basarnas untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk.

“Kami minta masyarakat tetap tenang, sambil terus waspada terhadap hujan dan gelombang tinggi,” ujar Faisal.

Ia juga menyinggung posisi strategis Indonesia sebagai Tropical Cyclone Warning Center di bawah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Status ini memungkinkan BMKG bertukar data dan analisis dengan pusat-pusat meteorologi regional seperti Australia, Jepang, dan India—sebuah jejaring penting di tengah cuaca global yang kian tidak menentu.

BMKG mencatat Siklon Bakung sempat mencapai kategori 3 dengan kecepatan angin hingga 65 knot pada 14 Desember, sebelum melemah kembali ke kategori 2. Harapannya, badai tersebut terus mereda. Namun hingga itu terjadi, langit Indonesia masih menyimpan ketegangan yang menuntut kewaspadaan bersama.***