Ritual hujan tidak sama dengan sains atmosfer. Namun, keduanya lahir dari dorongan serupa: manusia ingin mengurangi ketidakpastian langit.


KOSONGSATU.ID — Manusia sejak lama berusaha membaca dan merespons langit. Dalam masyarakat agraris, kemarau bukan sekadar soal cuaca, melainkan ancaman terhadap pangan, ternak, dan kehidupan bersama.

Dulu, respons itu hadir dalam bentuk ritual hujan. Kini, negara menggunakan teknologi modifikasi cuacaberbasis data atmosfer, radar, dan pemodelan meteorologi.

Cara Kerja Modifikasi Cuaca

Di Indonesia, operasi modifikasi cuaca digunakan untuk mitigasi banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga pengisian bendungan. BMKG menyebut operasi ini dilakukan berbasis data ilmiah.

Metode yang umum digunakan ialah penyemaian awan dengan bahan higroskopis seperti natrium klorida atau NaCl. Bahan itu disebar ke awan target untuk membantu proses pembentukan butir hujan.

Namun, teknologi ini tidak menciptakan hujan dari ruang kosong. BMKG menegaskan, penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam.

Lembaga Pemeriksa Keuangan Amerika Serikat atau GAO juga mencatat, penyemaian awan hanya dapat meningkatkan presipitasi ketika jenis awan yang tepat tersedia. Artinya, peluang keberhasilannya tetap dibatasi kondisi atmosfer.

Ritual Tidak Bekerja seperti Sains

Di titik inilah perbandingan dengan ritual hujan perlu ditempatkan secara hati-hati. Ritual tidak dapat disamakan dengan sains atmosfer. Ia tidak bekerja melalui mekanisme fisika awan.

Namun, menolak seluruh ritual sebagai sekadar klenik juga terlalu menyederhanakan kebudayaan. Dalam banyak masyarakat agraris, ritual hujan berfungsi sebagai cara kolektif menghadapi ketidakpastian alam.

Fungsi Sosial Ritual Hujan

Contohnya, tradisi Tiban di Jawa dipahami masyarakat sebagai ritual memohon hujan saat kemarau. Kajian antropologi mencatat praktik itu terkait erat dengan kehidupan warga yang bergantung pada pertanian.

Dari sisi psikologi, ritual juga memiliki fungsi yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Studi Martin Lang, Jan Krátký, dan Dimitris Xygalatas dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B menemukan perilaku ritual dapat menurunkan kecemasan pada peserta.

Dengan kata lain, ritual mungkin tidak mengubah atmosfer. Namun, ia dapat mengubah kondisi sosial dan psikologis manusia yang hidup di bawah ancaman kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Firdaus Andreansyah
Editor