​Salah satu korban yang telah teridentifikasi gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (28) dari Batalyon Infanteri 113/JS.

Dalam insiden yang sama, Praka Rico Pramudia menderita luka berat, sementara Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan. Tim medis lapangan bergerak cepat mengevakuasi korban luka berat menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan intensif.

​Kecaman Internasional dan Langkah Diplomasi

​Merespons kejadian nahas ini, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan belasungkawa mendalam di sela-sela kunjungannya di Tokyo, Jepang.

Pemerintah Indonesia mengecam keras eskalasi serangan Israel yang kini meluas secara agresif ke wilayah Lebanon.

​Sugiono langsung menginstruksikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut untuk mengurus pemulasaraan jenazah Praka Farizal. Selain itu,

Indonesia menuntut UNIFIL melakukan investigasi menyeluruh guna mengungkap sumber tembakan yang menewaskan prajurit kebanggaan bangsa tersebut.

​Kecaman keras juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Melalui akun X pribadinya, ia mengutuk serangan yang terus menargetkan dan membahayakan nyawa personel penjaga perdamaian internasional di garis perbatasan.

​Menanti Sikap Tegas Pemerintah

​Kini, bola berada di tangan pemerintah. Tragedi di Lebanon Selatan menjadi ujian berat bagi komitmen diplomasi dan kebijakan luar negeri Indonesia.

Masyarakat luas dan kalangan akademisi menanti langkah nyata Presiden Prabowo Subianto: apakah pemerintah akan mempertahankan posisi di Board of Peace demi ambisi peran mediator global, atau mengambil langkah mundur demi merespons gugurnya para patriot bangsa dan memegang teguh prinsip konstitusi anti-penjajahan.***