Serangan dan teror beruntun Israel ke UNIFIL memicu alarm global setelah satu prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan.


KOSONGSATU.ID – Serangan beruntun militer Israel terhadap Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL disorot bukan semata sebagai insiden tempur, melainkan intimidasi langsung terhadap pasukan perdamaian. Rangkaian kejadian itu memuncak pada akhir Maret 2026 dan menyeret Dewan Keamanan PBB ke sidang darurat.

Puncak insiden terjadi pada Minggu, 29 Maret 2026, saat proyektil menghantam area markas PBB di Adshit al-Qusayr, distrik Marjayoun, Lebanon Selatan.

Serangan itu mengenai posisi kontingen Indonesia, menewaskan tiga prajurit TNI dan melukai beberapa personel lain. UNIFIL mengonfirmasi insiden tersebut pada Senin, 30 Maret 2026.

Sehari sebelumnya, Sabtu, 28 Maret 2026, kontingen Prancis juga menghadapi tekanan serius di Naqoura. Kepala Staf UNIFIL Jenderal Paul Sanzey dilaporkan ditodong senjata dan dipaksa pergi dari lokasi.

Pada hari yang sama, konvoi logistik Prancis ditembaki, lalu tank Israel melepaskan tembakan ke arah komandan unit Prancis-Finlandia.

Pola Tekanan terhadap Misi PBB

Rangkaian insiden itu memperkuat tudingan bahwa pasukan perdamaian tidak lagi sekadar terdampak perang, tetapi mulai menjadi sasaran intimidasi di lapangan. Yang dipersoalkan bukan hanya tembakan, melainkan pola tekanan bersenjata yang dinilai mengganggu mobilitas, logistik, dan pelaksanaan mandat penjaga perdamaian di Garis Biru.

Perwakilan Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada 31 Maret 2026, menyebut peningkatan serangan terhadap UNIFIL sebagai pola sistematis untuk melemahkan mandat Resolusi 1701.

Ia menegaskan serangan terhadap personel penjaga perdamaian berpotensi menjadi pelanggaran hukum humaniter internasional.

Prancis menyuarakan nada serupa. Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot pada 30 Maret 2026 menyatakan intimidasi terhadap pasukan UNIFIL tidak dapat dibenarkan.

Sehari kemudian, Utusan Khusus Prancis untuk PBB, Jerome Bonnafont, menegaskan Dewan Keamanan tidak cukup hanya mengecam jika pasukan perdamaian terus dihambat.

Risiko Preseden Berbahaya

Akibat situasi itu, patroli dan mobilitas UNIFIL di sejumlah titik Garis Biru kini dibatasi untuk menekan risiko korban baru. Langkah itu menunjukkan satu hal: ruang gerak pasukan PBB kian terjepit.