Indonesia memanen ratusan ribu ton tembakau setiap tahun dan meraup triliunan dari cukai. Tapi nilai tambahnya masih dibuang ke luar negeri. Saatnya berhenti jadi tukang panen untuk negara lain.


KOSONGSATU.ID—Di negeri ini, dari lereng Merapi sampai ladang-ladang kering di Lombok, tembakau tumbuh subur seperti harapan.

Tanaman Nicotiana tabacum menjadi tumpuan hidup sekitar 2,3 juta keluarga petani, membentang di lahan lebih dari 200 ribu hektare.

Total produksi? 238.800 ton tembakau pada 2023. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen tembakau terbesar di dunia.

Tapi, tunggu dulu. Kalau kita besar, kenapa petani kita ‘masih kecil’?

Produktivitas Masih Jauh di Bawah Negara Lain

Memang, produktivitas kita naik, kini di angka 1.245 kg per hektare. Tapi Italia—negara Eropa yang tak sepanjang tahun disinari matahari seperti Indonesia—bisa mencapai 3.000 kg/hektare lebih.

Artinya: kita punya lahan, punya petani, tapi belum punya efisiensi.

Negara Kaya dari Cukai, Petani Masih Bertahan Hidup

Tembakau menyumbang Rp213,5 triliun cukai ke kas negara pada 2023. Di kuartal pertama 2025 saja, sudah masuk Rp55,7 triliun. Tapi mari kita jujur: berapa dari triliunan itu yang kembali ke petani?

Petani masih mengeringkan tembakau dengan sinar matahari, tanpa teknologi fermentasi atau sortasi.

Sementara di luar negeri, nikotin tembakau kita diolah menjadi bahan baku obat, terapi berhenti merokok, hingga pestisida organik. Kita? Masih ekspor daun mentah dan beli kembali produk jadinya dengan harga berkali lipat.

Ekspor Tinggi, Tapi Nilai Tambah Rendah

Ekspor daun tembakau mentah kita mencapai Rp3,28 triliun, sementara ekspor rokok dan cerutu jadi USD 1,7 miliar—naik 21 persen dari tahun lalu.

Negara tujuan utama: AS, China, Italia, Sri Lanka, Belanda. Tapi lagi-lagi: berapa banyak yang kita olah sendiri? Sebagian besar tetap dalam bentuk bahan baku.

Rokok Ilegal Naik, Industri Sah Terjepit

Menurut Navigasi.co.id, peredaran rokok ilegal meningkat tajam dari 3,3 persen pada 2019 menjadi 6,9 persen di 2024. Ini bukan sekadar masalah hukum—ini soal hancurnya ekosistem.

Akibatnya, industri pengolahan tembakau justru mengalami kontraksi -3,8% di kuartal pertama 2025.

Ada Harapan: Dari Nikotin Jadi Inovasi

Beberapa langkah mulai muncul. Varietas unggul seperti Prancak T1 dan Prancak T2 dikembangkan.

Penelitian mulai melirik nikotin untuk terapi Alzheimer, Parkinson, hingga pestisida alami. Tapi langkah ini masih sporadis—tanpa dukungan ekosistem industri dan investasi jangka panjang.

Sudah Saatnya Berhenti Ekspor Daun Kering

Bayangkan jika Indonesia berhenti menjual tembakau sebagai bahan mentah.

Bayangkan jika desa-desa penghasil tembakau punya pabrik fermentasi, laboratorium riset, dan akses pasar langsung ke luar negeri.

Bayangkan jika anak petani tembakau tumbuh bukan hanya sebagai penerus ladang, tapi juga inovator produk berbasis nikotin.

Kalau negara lain bisa mengubah tembakau jadi obat penyembuh, mengapa kita masih puas jadi penjual asap?***

Tembakau Bukan Musuh, Tapi Potensi Emas. Mari Olah, Bukan Sekadar Panen.

Dorong hilirisasi. Dukung riset. Tekan rokok ilegal. Waktunya industri tembakau Indonesia naik kelas.***