Bukti dari Belanda

Keraguan terhadap keberadaan Resolusi Jihad baru berhenti ketika Gus Sholah menulis surat ke Museum Leiden pada 2011.

Jawaban dari Belanda membungkam para skeptis: arsip Koran Kedaulatan Rakyat (26–27 Oktober 1945) dan Suara Masyarakat di Jakarta memang memuat teks lengkap Resolusi Jihad.

Sejarawan Amerika Frederik Anderson bahkan menulis hal serupa dalam penelitiannya tentang pendudukan Jepang di Indonesia. “Sejarah dikebiri hanya karena NU dianggap golongan bawah,” kata Agus Sunyoto. “Padahal tanpa mereka, 10 November tak akan pernah ada.”

Tawuran yang Menjadi Ibadah

Mungkin benar kata Agus: bagi rakyat Surabaya, perang itu awalnya cuma tawuran. Tapi bedanya, tawuran ini tak digerakkan oleh dendam — melainkan oleh keyakinan.

Tawuran yang berubah menjadi ibadah. Tawuran yang mengubah arah sejarah Indonesia.

Dan seperti ditulis Kantor Berita Antara waktu itu, “Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya merupakan seruan jihad.” Jihad yang tak riya, karena para pelakunya tak menulis nama mereka di buku sejarah.

Tapi doa mereka masih hidup, bersama bau mesiu yang belum benar-benar hilang dari tanah Surabaya.***