Yang Bertempur Tanpa Nama
Yang menarik, hampir semua saksi mengatakan hal serupa: tak ada tentara reguler di garis depan. Yang ada adalah para santri, kiai, dan pemuda kampung. Mereka menamakan diri pasukan Hizbullah dan Sabilillah — dua sayap tempur yang dibentuk oleh pesantren-pesantren.
Mereka berperang tanpa bayaran. “Tahun 1945 sampai 1950, belum ada tentara yang digaji,” ujar Agus.
Yang menggerakkan mereka bukan seragam atau bintang di pundak, tapi keyakinan sederhana: mati di Surabaya berarti mati syahid. Bahkan warga non-muslim ikut bertempur: Konghucu, Kristen, Buddha — semua tersentuh oleh semangat jihad membela tanah air.
Kepolosan yang Menggetarkan
Di balik heroisme itu, tersimpan banyak kisah yang justru membuat tersenyum. Agus menuturkan, banyak santri yang tidak mengerti cara memakai senapan mesin, hingga memilih kembali ke bambu runcing karena “lebih mudah dipakai.”
Suatu kali, seorang kiai menyuruh santrinya melempar granat ke tank musuh. Santri itu benar-benar membuka pintu tank, melempar granat, lalu menunduk ke dalam untuk melihat hasilnya. Granat meledak, menghancurkan tank dan dirinya.
“Kepolosan yang membunuh, tapi sekaligus membuat merinding,” kata Agus.
Sejarah yang Hampir Dihapus
Ironisnya, peran kaum sarungan itu sempat dihapus dari catatan resmi. Dalam seminar di sebuah perguruan tinggi negeri pada 2014, disebutkan bahwa “NU tidak punya peran dalam mempertahankan kemerdekaan.”
Bahkan tokoh seperti Bung Tomo dan Mayjen Sungkono tak menulis soal Resolusi Jihad dalam buku mereka.
Keluarga Tebuireng protes keras. “Yang berjasa itu para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan wong-wong sosialis?” kata Nyai Sholihah, ibu Gus Dur, saat melihat peringatan Hari Pahlawan tahun 1990.
Gus Dur menindaklanjuti dengan marah sekaligus geli. “Yang berjasa orang bodoh, yang jadi pahlawan orang pintar,” kata seorang tokoh tua kepadanya. Gus Dur membalas dengan tindakan: tahun 1991, ia menggelar kaderisasi besar-besaran bagi anak muda NU agar tak lagi dianggap bodoh — mereka belajar sejarah, filsafat, dan geopolitik.




Tinggalkan Balasan