Kisah persahabatan Bung Karno & Inyiak Canduang, ulama pemberi gelar ‘Waliyul Amri’ yang menjaga legitimasi RI di tengah badai.
KOSONGSATU.ID – Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, persahabatan antara pemimpin revolusi dan ulama besar sering kali menjadi kunci stabilitas negara.
Hubungan Presiden Soekarno dengan Syekh Sulaiman Ar-Rusuli (Inyiak Canduang) membangun salah satu narasi sejarah yang paling kuat. Pendiri organisasi Perti ini menjaga kewibawaan Bung Karno saat arus politik mengguncang keabsahan sang proklamator.
Legitimasi ‘Waliyul Amri’ di Tengah Badai Dekrit
Sejatinya, hubungan Bung Karno dan Inyiak Canduang telah menembus batas silaturahmi formal. Sayangnya, tantangan besar mulai menguji hubungan tersebut saat Bung Karno mencetuskan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sontak, berbagai kelompok Islam melontarkan kritik tajam lantaran mereka meragukan keabsahan kekuasaan yang kian terpusat tersebut.
Di titik kritis inilah, Syekh Sulaiman Ar-Rusuli mengambil posisi tegas:
- Landasan Fikih: Bersama ulama Perti, ia memberikan landasan Ushul Fiqh bagi kepemimpinan nasional.
- Gelar Khusus: Ia menetapkan Soekarno sebagai Waliyul Amri Daruri bi At-Syawkah (pemegang kekuasaan darurat dengan kekuatan).
- Tujuan Utama: Status ini memberikan legitimasi agama bahwa Bung Karno adalah pemimpin sah yang wajib ditaati demi mencegah perpecahan bangsa.
Menjaga NKRI dari Gerakan PRRI
Selanjutnya, ujian bagi kesetiaan Inyiak Canduang terhadap Republik Indonesia kembali datang seiring meletusnya gerakan PRRI di Sumatera Barat. Sekalipun gejolak tersebut membara di tanah kelahirannya sendiri, Syekh Sulaiman nyatanya tidak sedikit pun goyah.
Melalui tokoh Perti, KH Sirajuddin Abbas, ia menegaskan bahwa pemberontakan (bughat) adalah jalan yang salah. Baginya, menjaga “Rumah Besar” Indonesia jauh lebih penting daripada ambisi politik lokal. Ia memandang menjaga persatuan adalah amanah agama dan konstitusi.
Kritik Tajam dalam Bingkai Persahabatan
Meski menjadi pendukung setia, Syekh Sulaiman Ar-Rusuli bukanlah “tukang stempel” kebijakan pemerintah. Ia dikenal sebagai kritikus yang jujur dan berani.
“Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah.”
Prinsip tersebut ia tunjukkan saat mempertanyakan anggaran negara di tengah kemiskinan rakyat pada Kongres Alim Ulama 1957. Ketegasan inilah yang membuat Bung Karno menaruh hormat luar biasa hingga berkali-kali mengunjungi kediaman Inyiak di Candung, Sumatera Barat.
Warisan Inyiak Canduang: Adat dan Agama
Syekh Sulaiman Ar-Rusuli wafat pada 1 Agustus 1970 dalam usia 99 tahun. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Ia mewariskan dua hal fundamental bagi identitas Minangkabau dan Indonesia:
- Kitab Al-Qaulul Bayan: Salah satu rujukan penting dalam literatur Islam Nusantara.
- Filosofi Integrasi: Memperkuat pondasi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
K.H. Ma’ruf Amin, Ulama sekaligus Wakil Presiden RI ke-13, pernah memuji peran beliau: “Syekh Sulaiman Ar-Rusuli membuktikan bahwa ulama memiliki peran besar dalam menjaga integrasi nasional saat negara berada di persimpangan jalan.” ***
Daftar Pustaka
- Nopriyasman. (2018). Syekh Sulaiman Ar-Rasuli: Ulama, Pendidik, dan Pemersatu Bangsa. Padang: Universitas Andalas.
- Hamka. (1950). Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Jakarta: Ummat.
- Arsip Pidato Syekh Sulaiman Arrasuli (1957). Kongres Alim Ulama se-Sumatera. Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
- Keterangan Tertulis Nasyirul Falah Amru (Gus Falah). (2023). Milad ke-95 Perti di Universitas Negeri Padang.





Tinggalkan Balasan