“Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah.”
Prinsip tersebut ia tunjukkan saat mempertanyakan anggaran negara di tengah kemiskinan rakyat pada Kongres Alim Ulama 1957. Ketegasan inilah yang membuat Bung Karno menaruh hormat luar biasa hingga berkali-kali mengunjungi kediaman Inyiak di Candung, Sumatera Barat.
Warisan Inyiak Canduang: Adat dan Agama
Syekh Sulaiman Ar-Rusuli wafat pada 1 Agustus 1970 dalam usia 99 tahun. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Ia mewariskan dua hal fundamental bagi identitas Minangkabau dan Indonesia:
- Kitab Al-Qaulul Bayan: Salah satu rujukan penting dalam literatur Islam Nusantara.
- Filosofi Integrasi: Memperkuat pondasi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
K.H. Ma’ruf Amin, Ulama sekaligus Wakil Presiden RI ke-13, pernah memuji peran beliau: “Syekh Sulaiman Ar-Rusuli membuktikan bahwa ulama memiliki peran besar dalam menjaga integrasi nasional saat negara berada di persimpangan jalan.” ***
Daftar Pustaka
- Nopriyasman. (2018). Syekh Sulaiman Ar-Rasuli: Ulama, Pendidik, dan Pemersatu Bangsa. Padang: Universitas Andalas.
- Hamka. (1950). Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Jakarta: Ummat.
- Arsip Pidato Syekh Sulaiman Arrasuli (1957). Kongres Alim Ulama se-Sumatera. Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
- Keterangan Tertulis Nasyirul Falah Amru (Gus Falah). (2023). Milad ke-95 Perti di Universitas Negeri Padang.



Tinggalkan Balasan